JAKARTA — Tiga hari bukan waktu yang singkat untuk sebuah festival musik. Namun, The Sounds Project Vol. 9: Beyond Memories memanfaatkannya untuk membangun sebuah perjalanan yang bergerak dari lagu-lagu patah hati, eksplorasi musik tradisional Nusantara, pop, musik alternatif, pop punk, hingga rock.
Digelar pada 7–9 Agustus 2026 di Ecovention & Ecopark Ancol, Jakarta, festival yang digarap THESOUNDPROJECT&CO ini menghadirkan lebih dari 120 musisi lokal dan internasional melalui tujuh panggung.
Skala tersebut membuat The Sounds Project Vol. 9 menjadi salah satu edisi paling besar dalam perjalanan festival ini. Namun, ukuran sebuah festival bukan semata-mata ditentukan oleh jumlah nama yang tercantum dalam daftar penampil. Yang lebih penting adalah apakah kurasi tersebut mampu menciptakan pengalaman yang beragam tanpa kehilangan identitas.
Dalam tiga hari penyelenggaraannya, The Sounds Project memperlihatkan bahwa kekuatan utamanya berada di persilangan tersebut.
Festival ini bisa menjadi tempat bagi penggemar Juicy Luicy untuk menyanyikan lagu tentang hubungan yang tidak selesai, ruang bagi Nusantara Beat untuk membawa musik Sunda dan Bali ke hadapan penonton Jakarta, arena bagi Neck Deep untuk menghidupkan kembali energi pop punk, sekaligus panggung bagi JET untuk membawa nostalgia rock ke generasi yang berbeda.

Hari Pertama, 7 Agustus: Dari Korban Sakit Hati hingga Eksplorasi Musik Nusantara
Hari pertama The Sounds Project Vol. 9 dibuka dengan suhu yang cukup terik. Namun, panas matahari tidak mengurangi antusiasme penonton yang mulai memenuhi sejumlah panggung.
Salah satu penampil yang membuka The Sounds Project Stage adalah Juicy Luicy.
Band asal Bandung tersebut langsung bermain di wilayah yang paling mereka kuasai: kisah cinta, patah hati, penantian, dan hubungan yang tidak pernah benar-benar menemukan ujung.
Mereka membawakan “Lantas”, “Malapetaka”, “Bukan Orangnya”, “Tanpa Tergesa”, “Gurun Hujan”, “Tak Di Tanganku”, “Terlalu Tinggi”, “Lampu Kuning”, “Tampar”, “Sialan”, hingga “Lagu Terakhir”.
Hampir seluruh katalog tersebut memiliki satu kesamaan: mudah diterima penonton festival dan memiliki bagian yang bisa diteriakkan bersama.
Vokalis Uan bahkan menjadikan status “korban sakit hati” sebagai bahan interaksi.
“Korban sakit hati mana suaranya?” tanyanya kepada penonton.
Respons yang muncul memperlihatkan betapa kuatnya keterikatan penonton dengan tema lagu Juicy Luicy. Mereka bukan sekadar mendengarkan, tetapi ikut memasukkan pengalaman pribadi ke dalam lagu yang sedang dimainkan.
Saat memperkenalkan “Gurun Hujan”, Uan kembali menggoda penonton dengan cerita tentang dua orang yang tinggal di kota yang sama tetapi tidak pernah bertemu.
Secara musikal, Juicy Luicy memang tidak datang dengan pendekatan yang eksperimental. Namun, justru konsistensi tersebut menjadi senjata mereka. Band ini memahami siapa penontonnya dan tidak berusaha menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Di sela penampilan, Uan juga menceritakan pengalamannya tampil di The Sounds Project selama beberapa tahun. Ia mengaku pernah dua kali salah kostum karena mengenakan celana kulit saat harus tampil di bawah terik matahari.
Candaan tersebut menjadi jeda ringan dalam pertunjukan yang sebagian besar dibangun dari lagu-lagu bernuansa melankolis.

Nusantara Beat Membawa Sunda dan Bali ke Tengah Festival
Jika Juicy Luicy bermain dengan emosi yang sangat dekat dengan kehidupan penonton, Nusantara Beat mengambil jalur berbeda.
Band asal Belanda beranggotakan enam orang itu tampil sekitar 45 menit di Musicverse Stage pada hari pertama. Kehadiran mereka menjadi salah satu penampilan yang menarik karena menawarkan perspektif asing terhadap musik tradisional Indonesia.
Nusantara Beat sebelumnya pernah tampil di Indonesia pada 2024. Pada 2026, mereka kembali dengan materi yang lebih matang, terlebih setelah merilis album perdana pada 2025.
Sebelum mereka naik panggung, bunyi-bunyian yang mengingatkan pada musik pembuka pertunjukan wayang terdengar dari panggung. Pilihan tersebut menjadi pembuka yang efektif sekaligus memberi petunjuk mengenai arah pertunjukan.
Nusantara Beat kemudian membawakan “Kalangkang”, “Mang Becak”, “Sifat Manusia”, “Cinta Ini Menyakitkan”, “Djanger”, hingga “Ular Ular”.
Yang membuat penampilan mereka menarik adalah cara musik tradisional Indonesia diterjemahkan melalui pendekatan psychedelic dan folk modern.
Alih-alih sekadar mereproduksi bunyi tradisional, mereka mengolah karakter tersebut menjadi bagian dari aransemen yang lebih modern. Nuansa kecapi, suling Sunda, hingga warna musik Bali terdengar dalam struktur musik yang lebih eksperimental.
“Kalangkang” menjadi salah satu contoh paling menarik.
Lagu yang menggunakan bahasa Sunda tersebut membawa cerita tentang sosok misterius atau bayangan yang hanya terlihat oleh seseorang. Nuansa folklor dan kepercayaan masyarakat Sunda kemudian dipertemukan dengan pendekatan psychedelic Nusantara Beat.
Sementara “Mang Becak” memperkuat eksplorasi mereka terhadap bahasa dan musik Sunda.
Menariknya, Nusantara Beat tidak berhenti di Jawa Barat. “Djanger” membawa atmosfer Bali ke panggung, memperlihatkan bahwa eksplorasi mereka terhadap musik Indonesia tidak terjebak pada satu wilayah.
Di titik ini, kehadiran Nusantara Beat memberikan salah satu nilai artistik paling kuat dalam festival.
Mereka memperlihatkan bahwa musik tradisional Indonesia tidak harus ditempatkan sebagai artefak masa lalu. Ia dapat dibongkar, ditafsirkan ulang, dan ditempatkan di dalam bahasa musik modern.
Namun, penampilan mereka juga memiliki tantangan. Sebagian penonton yang datang untuk menikmati musik populer mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami pendekatan Nusantara Beat. Ketika musik dari panggung lain terdengar, konsentrasi terhadap detail aransemen mereka juga sedikit terganggu.
Meski begitu, “Sifat Manusia” berhasil kembali menaikkan energi pertunjukan. “Cinta Ini Menyakitkan” memberikan warna yang lebih melankolis, sebelum “Ular Ular” menjadi penutup yang mengajak penonton bergerak.
Bagi The Sounds Project, Nusantara Beat bukan sekadar nama internasional dalam daftar lineup. Mereka menjadi contoh bahwa kekayaan musik Indonesia dapat kembali ke panggung Indonesia melalui interpretasi yang tidak biasa.

Foto: Dok. TSP
Rizky Febian Membuka MG Stage
Masih pada hari pertama, Rizky Febian membuka MG Stage.
Di tengah panasnya sore, Rizky tampil dengan jersey, celana pendek, dan kacamata hitam. Ia membuka set dengan “Berona”, kemudian melanjutkan dengan “Nona”, “Malam Rawan”, “Seperti Kisah”, “Cuek”, dan sejumlah lagu lainnya.
Setelah “Berona”, Rizky menyapa penonton.
“Selamat sore! Selamat datang di The Sounds Project semuanya!”
Ia kemudian mempersembahkan “Nona” untuk para penonton perempuan yang hadir.
Penampilan tersebut menunjukkan kemampuan Rizky memainkan format festival. Tidak ada kebutuhan untuk membuat pertunjukan menjadi terlalu rumit. Lagu-lagu yang sudah dikenal, komunikasi langsung, dan energi performer cukup untuk membuat penonton tetap bertahan meski matahari belum tenggelam.
Selain Rizky, MG Stage hari pertama juga diramaikan Suara Wijaya 80, Pee Wee Gaskins x Rocket Rockers, Alkateri, K3BI, dan NDX A.K.A.
Komposisi tersebut sekaligus menunjukkan salah satu karakter The Sounds Project: festival tidak memaksa penonton memilih satu genre sejak awal.
Hari Kedua, 8 Agustus: Ketika Pop Punk Mengambil Alih Ancol
Hari kedua menghadirkan perubahan energi yang cukup signifikan.
Jika hari pertama memberi ruang besar untuk pop, folk, dan eksplorasi musik tradisional, Sabtu malam menjadi momentum bagi pop punk.
Neck Deep, band asal Wrexham, Inggris, tampil sekitar pukul 21.30 WIB.
Kehadiran mereka langsung mengubah dinamika area festival. Penonton yang sebelumnya tersebar di sejumlah titik bergerak mendekati area depan panggung.
Begitu Ben Barlow dan personel lainnya mengambil posisi, teriakan penonton membesar.
Neck Deep datang dengan katalog yang sudah akrab bagi penggemar pop punk Indonesia. Musik mereka memiliki karakter yang sangat cocok dengan format festival: cepat, melodis, agresif, tetapi tetap mudah dinyanyikan.
Yang menarik, penampilan Neck Deep memperlihatkan bahwa pop punk tidak kehilangan daya tariknya di tengah dominasi genre lain.
Ribuan penonton menyanyi bersama dan menciptakan energi kolektif yang sulit dibangun hanya dengan produksi panggung.
Meski demikian, keberadaan nama internasional sebesar Neck Deep juga menjadi ujian bagi festival. Ketika ekspektasi terhadap satu penampil terlalu tinggi, perhatian penonton dapat terkonsentrasi pada satu panggung dan mengurangi eksplorasi terhadap panggung lainnya.
Hal tersebut merupakan konsekuensi dari festival dengan tujuh panggung. Penonton mendapatkan pilihan yang sangat banyak, tetapi sekaligus harus rela kehilangan beberapa penampilan karena benturan jadwal.
Di hari kedua, The Sounds Project Stage diisi 510, Kangen Band, Barasuara, Wali, King Nassar, hingga Neck Deep.
Musicverse Stage menghadirkan Sal Priadi, Elephant Kind, Moluccan Soul, D’Masiv, Reality Club, Float, dan Biru Baru.
MG Stage diisi The S.I.G.I.T., Eleventwelfth, Monkey Boots, Poris, Murphy Radio, dan Grind Boys.
Sementara Garden Stage menghadirkan Gledeg, Ghea Indrawari, Teenage Death Star, The Milo, Jason Ranti & Dongker, Ali, dan White Chorus.
Di TSP & Co. Stage terdapat Geisha, Societeit de Harmonie, The Cottons, Strangers, Beijing Connection, dan The Paps.
Joged Stage menghadirkan Banda Neira, Adhitia Sofyan, Silampukau, Inis, serta Crowd Surfers bersama Faizal Permana.
TSP Squad Stage diisi Jen, All Acc3ss, Verryans, Tiga Dara, serta tamu rahasia.
Kepadatan lineup tersebut membuat hari kedua terasa seperti festival di dalam festival. Penonton dapat berpindah dari pop ke rock, dari musik alternatif ke musik populer, hanya dengan berjalan beberapa menit.
Kelebihannya jelas: pilihan sangat banyak.
Kekurangannya juga tidak bisa diabaikan: pengalaman menonton menjadi sangat bergantung pada strategi penonton memilih panggung dan waktu.
Hari Ketiga, 9 Agustus: JET Menutup Festival dengan Nostalgia Rock
Hari terakhir menjadi penutup perjalanan tiga hari tersebut.
JET, band rock asal Australia, hadir membawa salah satu katalog rock paling dikenal dari era 2000-an.
Mereka membuka pertunjukan dengan “Put Your Money Where Your Mouth Is”, “Cold Hard Bitch”, “Rollover D.J.”, “Look What You’ve Done”, dan “Move On”.
Namun, “Are You Gonna Be My Girl” menjadi salah satu titik paling eksplosif.
Begitu lagu tersebut dimainkan, ribuan penonton ikut bernyanyi. Nic Cester beberapa kali memancing respons penonton dengan seruan sederhana.
“Are you ready?”
Gemuruh yang muncul menjadi jawaban.
JET menunjukkan bahwa nostalgia tidak selalu berarti mengulang masa lalu secara pasif. Lagu-lagu mereka memang lahir dari era berbeda, tetapi energi rock yang mereka bawa masih relevan ketika ditempatkan di panggung festival modern.
Kekuatan JET juga terletak pada kesederhanaan. Tidak perlu terlalu banyak gimmick ketika sebuah band memiliki lagu yang mampu menggerakkan ribuan orang dalam beberapa detik.
Penampilan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa salah satu kekuatan The Sounds Project adalah kemampuannya mempertemukan generasi yang berbeda.
Penonton yang tumbuh bersama musik JET dapat menikmati nostalgia, sementara generasi yang lebih muda mendapat kesempatan menyaksikan langsung band yang sebelumnya mungkin hanya mereka kenal melalui rekaman atau layanan streaming.
Lebih dari 120 Musisi, tetapi Kurasi Tetap Menjadi Pertaruhan
Selama tiga hari, lebih dari 120 musisi lokal dan internasional hadir di tujuh panggung.
Dari Indonesia, nama seperti Tulus, Raisa, Hindia, .Feast, Mahalini, Wali, Barasuara, Kangen Band, Sal Priadi, Reality Club, Banda Neira, hingga The S.I.G.I.T. memperlihatkan rentang musik yang sangat luas.
Sementara dari luar negeri, Neck Deep, Nusantara Beat, dan JET menjadi beberapa nama yang paling mendapat perhatian.
Jumlah tersebut jelas menjadi kekuatan utama. Penonton tidak akan kehabisan pilihan.
Tetapi semakin besar festival, semakin besar pula tantangan kurasinya.
The Sounds Project harus memastikan keberagaman tidak berubah menjadi sekadar kepadatan lineup. Tujuh panggung dan lebih dari 120 musisi memang menawarkan kebebasan, tetapi juga berpotensi membuat pengalaman penonton terfragmentasi.
Pada edisi kesembilan ini, festival relatif berhasil mengatasi persoalan tersebut melalui satu benang merah: pengalaman bersama.
Baik ketika Juicy Luicy mengajak “korban sakit hati” bernyanyi, Nusantara Beat mengajak penonton menelusuri kembali warna musik Sunda dan Bali, Neck Deep mengubah kerumunan menjadi lautan pop punk, maupun JET menghidupkan kembali energi rock, penonton selalu ditempatkan sebagai bagian penting dari pertunjukan.
Beyond Memories Bukan Sekadar Nostalgia
The Sounds Project Vol. 9 berangkat dari acara kecil di lingkungan kampus sebelum berkembang menjadi festival berskala nasional.
Festival Director Gerhana Banyubiru menyebut konsistensi sebagai salah satu tantangan terbesar dalam perjalanan tersebut.
Tiga hari penyelenggaraan edisi kesembilan memperlihatkan bagaimana tantangan itu diterjemahkan ke dalam sebuah festival yang semakin besar.
Beyond Memories pada akhirnya bukan sekadar tentang mengingat masa lalu.
Juicy Luicy mewakili emosi yang sangat personal dan relevan bagi generasi sekarang. Rizky Febian membawa pop kontemporer. Nusantara Beat mengolah kembali warisan musik tradisional Indonesia melalui perspektif global. Neck Deep menghidupkan energi pop punk. JET membawa kembali rock ke panggung besar.
Di situlah identitas The Sounds Project Vol. 9 menjadi menarik.
Festival ini tidak harus memilih antara masa lalu dan masa kini. Keduanya bisa berada di panggung yang sama, bahkan dalam tiga hari yang sama.
Masih ada ruang untuk penyempurnaan, terutama dalam mengelola skala festival, distribusi penonton, dan benturan jadwal yang menjadi konsekuensi dari banyaknya panggung.
Namun, jika sebuah festival diukur dari kemampuannya menciptakan momen yang terus dibicarakan setelah lampu panggung padam, The Sounds Project Vol. 9 memiliki modal yang kuat.
Pada akhirnya, memori tidak lahir dari jumlah nama dalam poster.
Memori lahir ketika ribuan orang menyanyikan lagu yang sama, ketika sebuah riff gitar membuat satu area melompat bersamaan, ketika musik Sunda terdengar dari panggung yang dimainkan band asal Belanda, atau ketika sebuah lagu lama tiba-tiba terasa relevan kembali.
Dan selama tiga hari di Ancol, The Sounds Project memberi cukup banyak alasan bagi penontonnya untuk membawa pulang memori tersebut.
