Bagi sebagian musisi, empat dekade berkarya mungkin menjadi waktu yang tepat untuk menikmati warisan yang telah mereka tinggalkan. Namun, tidak demikian bagi Ria Resty Fauzy. Setelah 40 tahun mewarnai industri musik Indonesia, penyanyi yang dikenal lewat sederet lagu pop legendaris itu justru memilih membuka lembaran baru.
Momentum tersebut diwujudkan melalui konser bertajuk “40 Tahun Berkarya Ria Resty Fauzy” yang digelar di Ballroom Golden Boutique Hotel Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (27/6/2026). Di hadapan para penggemar dan rekan-rekan sesama musisi, Ria tidak hanya merayakan perjalanan panjangnya, tetapi juga memperkenalkan karya terbaru berjudul “Rindu Yang Menyiksa”.
Perilisan lagu tersebut menjadi penanda bahwa semangat berkarya Ria masih terus menyala. Setelah lebih dari dua dekade tidak merilis karya baru di industri rekaman, ia kembali hadir dengan sebuah lagu yang merepresentasikan karakter musik yang selama ini melekat pada dirinya.
Kembali dengan Sentuhan Pop yang Emosional
Diciptakan oleh Dommy Alen, “Rindu Yang Menyiksa” mengangkat tema kerinduan melalui balutan aransemen pop yang sederhana, hangat, dan emosional. Karakter vokal Ria yang tetap khas menjadi kekuatan utama lagu ini, menghadirkan nuansa yang mengingatkan pendengar pada era ketika musik pop Indonesia dipenuhi lirik-lirik penuh perasaan.
Alih-alih mengikuti tren sesaat, Ria memilih tetap setia pada identitas musikalnya. Hasilnya adalah sebuah karya yang terdengar akrab bagi para penggemar lama, namun tetap relevan dinikmati oleh generasi baru yang merindukan lagu dengan kekuatan emosi.
Perjalanan Panjang Seorang Ikon Pop
Nama Ria Resty Fauzy telah menjadi bagian dari sejarah musik Indonesia sejak era 1980-an. Berbagai lagu yang dibawakannya berhasil menjadi hits, mulai dari “Cintaku Sedalam Lautan Atlantik”, “Sinar Matamu Bagai Besi Sembrani”, “Cintaku Sampai ke Ethiopia”, “Sepatu Dari Kulit Rusa”, hingga “Kututup Layar Cintaku”.
Popularitasnya bahkan meluas ke Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Beragam penghargaan turut mengiringi perjalanan kariernya, di antaranya lima Golden Record, BASF Award 1987 untuk lagu “Cintaku Sampai ke Ethiopia”, serta HDX Award 1988 melalui “Kututup Layar Cintaku”.
Deretan pencapaian tersebut memperlihatkan konsistensi seorang penyanyi yang selama puluhan tahun mampu mempertahankan kualitas vokal sekaligus kedekatan emosional dengan para pendengarnya.
Malam Penuh Apresiasi dan Persahabatan
Perayaan 40 tahun berkarya Ria Resty Fauzy semakin bermakna dengan hadirnya sejumlah musisi yang pernah menjadi bagian dari era keemasan musik pop Indonesia.
Obbie Messakh, Endang S. Taurina, Ratih Purwasih, Lies Meinawati, Julian Dekrita, Etrie Jayanti, hingga Gandhi S. tampil membawakan lagu-lagu yang pernah mengiringi perjalanan karier Ria. Kehadiran mereka menjadikan konser tersebut bukan hanya sebagai ajang nostalgia, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap dedikasi Ria dalam industri musik nasional.
Suasana hangat yang tercipta sepanjang konser memperlihatkan bahwa karya-karya Ria masih memiliki tempat istimewa di hati banyak orang, bahkan setelah puluhan tahun berlalu.
“Seorang Penyanyi Tidak Pernah Benar-Benar Selesai”
Bagi Ria, kembali naik ke panggung bukanlah upaya mengejar popularitas. Musik telah menjadi bagian dari hidupnya, dan keinginan untuk terus berkarya menjadi alasan utama ia kembali merilis lagu baru.
“Bagi saya, kembali bernyanyi bukan soal mengejar popularitas atau materi. Musik sudah menjadi bagian dari hidup saya selama 40 tahun, dan panggung selalu punya tempat yang tidak bisa digantikan apa pun. Saya ingin kembali berkarya, kembali menciptakan lagu yang bisa diterima masyarakat, dan semoga ‘Rindu Yang Menyiksa’ menjadi awal perjalanan baru itu. Kalau masih ada penonton yang berdiri, bernyanyi bersama, lalu memberikan tepuk tangan dengan tulus, itulah bayaran paling mahal yang pernah saya terima. Saya percaya, selama masih ada cinta dari pendengar, seorang penyanyi tidak pernah benar-benar selesai,” ujar Ria Resty Fauzy.
Melalui konser perayaan empat dekade berkarya sekaligus peluncuran “Rindu Yang Menyiksa”, Ria Resty Fauzy menunjukkan bahwa seorang legenda tidak hanya dikenang karena karya-karya masa lalunya. Seorang legenda juga terus hidup melalui keberanian untuk melangkah, berkarya, dan menyapa kembali para pendengarnya dengan semangat yang sama seperti saat pertama kali memulai perjalanan di dunia musik.
