{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["local"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"transform":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}
Di industri musik pop yang silih berganti melahirkan sensasi instan, hanya sedikit nama yang mampu bertahan selama seperempat abad tanpa kehilangan relevansi emosionalnya. Westlife adalah salah satunya. Dan pada Selasa malam, 10 Februari 2026, di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, trio asal Irlandia itu kembali membuktikan bahwa Indonesia bukan sekadar pasar—melainkan benteng terakhir loyalitas pop yang nyaris tak tergoyahkan.
Konser bertajuk A Gala Evening terasa lebih seperti deklarasi kekuatan fanbase daripada sekadar tur nostalgia. Sejak World of Our Own menghentak sebagai pembuka, ribuan suara langsung mengambil alih ruangan. Shane Filan, Nicky Byrne, dan Kian Egan bahkan nyaris tak perlu bernyanyi penuh—penonton sudah lebih dulu menyelesaikan setiap lirik.

“Hello Jakarta! Aku cinta kamu!” seru Shane. Kalimat sederhana itu terdengar seperti pengakuan dua arah.
Menariknya, konser ini berlangsung tanpa Mark Feehily yang masih dalam masa pemulihan kesehatan. Dalam banyak kasus, absennya satu personel bisa menciptakan kekosongan signifikan. Namun di Jakarta, yang terjadi justru sebaliknya: trio yang tersisa tampil lebih rapat, lebih komunikatif, dan terdengar matang. Aransemen orkestra memberi dimensi megah, menggeser citra boyband menjadi pertunjukan pop klasik yang elegan.
Lagu-lagu seperti If I Let You Go dan When You’re Looking Like That membuktikan bahwa katalog Westlife bukan sekadar kumpulan hits radio era 2000-an, melainkan soundtrack kolektif satu generasi. Ketika Mandy dan I Have a Dream dibawakan, suasana berubah khidmat. Bukan hanya karena melodinya, tetapi karena waktu yang melekat pada lagu-lagu tersebut.
Di sela pertunjukan, Kian melontarkan candaan tentang usia lagu-lagu mereka yang “tua”. Namun justru di situlah letak kekuatannya: lagu-lagu ini menua bersama pendengarnya. Tidak ada yang merasa ditinggalkan.
Set kedua konser memperlihatkan sisi lain Westlife. Uptown Girl tetap riang, sementara Ain’t That a Kick in the Head dan Mack the Knife menunjukkan fleksibilitas vokal mereka yang kian matang. Ini bukan lagi boyband remaja; ini adalah grup pop dewasa yang nyaman dengan warisan musikalnya.
Menuju klimaks, Flying Without Wings, My Love, hingga You Raise Me Up berubah menjadi koor raksasa. NICE PIK 2 bergemuruh bukan oleh tata cahaya atau efek panggung, tetapi oleh kekuatan memori kolektif. Swear It Again menutup malam seperti epilog manis dari perjalanan panjang sejak 1999.
Yang paling mencolok bukanlah produksi megah atau daftar lagu yang solid. Yang paling terasa adalah ikatan emosional yang tidak pernah pudar. Indonesia disebut sebagai “rumah kedua”—dan klaim itu terdengar sahih. Sejarah platinum, sambutan bandara di awal karier, hingga konser demi konser yang selalu penuh, menjadi bukti bahwa hubungan ini bukan hubungan sepihak.
Di era streaming dan algoritma, Westlife di Jakarta membuktikan satu hal: loyalitas tidak bisa dihitung hanya lewat angka digital. Ia hidup dalam suara ribuan orang yang hafal setiap bait, dalam tawa yang sama terhadap candaan lama, dan dalam air mata yang jatuh saat lagu lama kembali diputar.
Westlife mungkin bukan lagi fenomena baru. Tapi di Indonesia, mereka tetap fenomena yang belum selesai.
