{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["local"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"transform":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}
IIstora Senayan berubah menjadi ruang nostalgia kolektif pada Sabtu malam (7/2/2026) saat konser 90’s Intimate 2nd Edition resmi dibuka. Perayaan musik dekade 90-an ini dimulai dengan sentuhan elegan dari musisi sekaligus komposer asal Amerika Serikat, Jim Brickman, yang tampil mengenakan setelan jas pink muda—pilihan busana yang terasa selaras dengan atmosfer hangat dan personal yang ingin ia bangun sejak awal.
Duduk di depan piano, Brickman membuka konser dengan “Rainbow Connection”, lagu yang langsung menghipnotis penonton dan menetapkan tone malam itu: intim, sentimental, dan penuh kenangan. Suasana kian menghangat ketika Rita Effendy naik ke atas panggung. Keduanya kemudian membawakan “The Gift”, sebuah lagu romantis yang dieksekusi dengan sederhana namun emosional.
Interaksi ringan pun tercipta. “Rita, kamu cantik sekali malam ini,” ujar Brickman, disambut senyum Rita yang tampil anggun dengan gaun hitam. Obrolan kecil berlanjut ketika Brickman mencoba menyapa penonton dalam Bahasa Indonesia. “Selamat malam, saya Mas Jim,” ucapnya terbata-bata, yang langsung dibalas Rita dengan candaan khasnya. “Aduh Mas Jim, apaan sih? Ini kita durasi, lho,” katanya, memancing tawa penonton.
Keduanya lalu menyanyikan “Valentine”, lagu yang seketika berubah menjadi momen sing-along massal. Denting piano Brickman berpadu dengan suara penonton yang larut dalam nostalgia.

Giliran Peabo Bryson mengambil alih panggung. Di usia 74 tahun, penyanyi legendaris ini tampil percaya diri dengan jas hitam bermotif batik, sebuah gestur kecil namun bermakna bagi penonton Indonesia. Energinya tetap terjaga sejak lagu pembuka “I Wish You Love”, disusul “Crosswinds” hingga “If Ever You’re In My Arms Again”.
“Ini adalah harapan saya untuk bisa tampil di Jakarta,” ucap Peabo, yang disambut tepuk tangan meriah. Salah satu momen paling romantis malam itu hadir saat ia mengajak Vina Panduwinata berduet membawakan “Tonight I Celebrate My Love”. Dua suara lintas generasi dan budaya itu menyatu dengan elegan, menciptakan momen yang terasa personal bagi penonton.
Menjelang akhir set, Peabo menyuguhkan dua lagu soundtrack Disney yang telah melekat dalam ingatan banyak orang: “Beauty and the Beast” dan “A Whole New World”. Meski ditempatkan di penghujung penampilan, energi penonton tak surut. Istora kembali dipenuhi suara koor, seolah seluruh ruangan bernyanyi bersama.
“Terima kasih, Jakarta. Saya tak sabar untuk berjumpa dengan kalian lagi,” ucap Peabo sebelum meninggalkan panggung.

Penampilan yang paling ditunggu malam itu akhirnya tiba: Michael Learns to Rock. Trio asal Denmark ini—Jascha Richter, Mikkel Lentz, dan Kare Wanscher—disambut gegap gempita. Sejak awal, Jascha menegaskan hubungan emosional MLTR dengan penggemar Asia, khususnya Indonesia.
“Kalian selalu menjadi penyanyi terbaik di Asia. Kalian bernyanyi dengan lantang dan jelas. Sangat menyenangkan bisa tampil di hadapan kalian,” ujarnya.
Di sela penampilan, Jascha berbagi kisah hampir kandasnya karier MLTR di awal 1990-an. Ia mengenang bagaimana band tersebut sempat dikontrak label Amerika dan bersiap merilis “The Actor”, sebelum mimpi itu runtuh akibat label yang bangkrut hanya beberapa minggu sebelum perilisan.
“Kami pikir karier kami sudah berakhir,” katanya. Namun, justru dari Indonesia, harapan itu kembali menyala. Sebuah stasiun radio di Jakarta mengabarkan bahwa “The Actor” meledak dan dicintai pendengar.
“Telepon itu datang dari Indonesia. Mereka bilang, ‘Kami memutar lagu kalian dan orang-orang sangat menyukainya!’,” kenang Jascha, disambut sorak penonton.
Cerita itu ditutup dengan refleksi sederhana namun mengena. “Kalian tidak bisa memprediksi karier kalian. Kalian tidak bisa memprediksi hidup kalian.” MLTR kemudian membawakan “Someday” lagu yang terasa seperti soundtrack perjalanan panjang mereka sendiri—dan malam itu rentetan lagu-lagu seperti 25 Minutes hingga Paint My Love juga menjadi milik ribuan penonton di Istora.
