Kolektif progressive metal legendaris asal Boston, Amerika Serikat, Dream Theater, sukses menggelar konser bertajuk “An Evening With Dream Theater – 40th Anniversary Tour 2026” di Beach City International Stadium, Jakarta, Sabtu (7/2). Konser ini menjadi perayaan empat dekade perjalanan salah satu band paling berpengaruh dalam sejarah progressive metal dunia.
Dream Theater tampil dengan formasi klasik: James LaBrie (vokal), John Petrucci (gitar), John Myung (bass), Jordan Rudess (keyboard), serta Mike Portnoy (drum) yang kehadirannya menjadi sorotan utama malam itu.
Konser dibagi menjadi dua set (Act 1 dan Act 2), dipisahkan jeda istirahat sekitar 20 menit. Lagu Metropolis, Pt. 1: The Miracle and the Sleeper membuka malam, langsung membawa penonton ke atmosfer khas Dream Theater yang megah dan teknikal.
“Jakarta… lihatlah suasana di sini malam ini. Ini pemandangan yang indah. Selamat datang di Tur Perayaan 40 Tahun Dream Theater,” sapa James LaBrie dari atas panggung, disambut gemuruh ribuan penonton.
Act 1 kemudian diisi rangkaian materi klasik dari era Scenes from a Memory, mulai dari Overture 1928, Strange Déjà Vu, hingga Through My Words. Energi konser terus meningkat lewat The Mirror dari album Awake, disusul The Enemy Inside dan Peruvian Skies yang disisipi potongan Wish You Were Here milik Pink Floyd dan Wherever I May Roam milik Metallica. Lagu As I Am menjadi penutup Act 1.
Kehadiran Mike Portnoy menjadi momen emosional tersendiri bagi penonton Indonesia. Ini adalah penampilan perdananya kembali bersama Dream Theater di Jakarta setelah lebih dari 13 tahun berpisah dari band.
“Kami juga merayakan fakta bahwa saudara kami dari ibu yang berbeda telah kembali ke band… Mike Portnoy!” ujar LaBrie, yang langsung disambut teriakan histeris penonton.
Di balik drum set ikonik Tama “Dream Monster” miliknya, Portnoy terlihat menikmati sambutan hangat fans Indonesia—sebuah momen nostalgia sekaligus penegasan bahwa chemistry klasik Dream Theater kembali utuh.
Usai jeda, Dream Theater membuka Act 2 dengan materi dari album terbaru mereka, Parasomnia (2025). Lagu-lagu seperti In the Arms of Morpheus, Night Terror, Midnight Messiah, Bend the Clock, hingga The Shadow Man Incident dibawakan secara berurutan.
Di sela penampilan, LaBrie mengungkapkan momen spesial.
“Hari ini adalah hari yang spesial, karena tepat satu tahun lalu kami merilis album Parasomnia. Dan kami merayakannya bersama kalian di sini, di Indonesia!”
Nomor monumental Octavarium (2005) kemudian dimainkan sebagai penutup Act 2, menghadirkan klimaks musikal yang epik sebelum encore.
Lampu panggung sempat padam, namun penonton tak beranjak dan terus meneriakkan, “We want more!”. Dream Theater kembali ke atas panggung dan memenuhi permintaan penonton lewat The Spirit Carries On.
LaBrie meminta seluruh penonton menyalakan lampu ponsel dan bernyanyi bersama.
“Mari kita berikan penghormatan kepada mereka yang telah mendahului kita. Nyanyikan lagu ini dengan sepenuh hati, karena mereka akan mendengarkannya,” ucapnya.
Momen tersebut menjadi salah satu titik paling emosional malam itu. Ribuan suara menyatu, menciptakan suasana khidmat dan merinding.
Sebagai penutup mutlak, Dream Theater masih menyimpan satu amunisi terakhir: Pull Me Under, yang menandai akhir perayaan 40 tahun perjalanan mereka di Jakarta.
