Perayaan panjang perjalanan Soneta Group mencapai puncaknya dalam konser bertajuk Selebrasi 55 Tahun Soneta yang digelar di Jakarta International Velodrome, Sabtu (13/12/2025). Malam itu, Rhoma Irama tidak sekadar tampil sebagai legenda, tetapi sebagai figur sentral yang kembali menegaskan pengaruhnya terhadap sejarah dan perkembangan musik dangdut Indonesia.
Konser ini menghadirkan perjalanan musikal yang merangkum lebih dari lima dekade kiprah Soneta dalam membentuk wajah dangdut modern. Ribuan penonton yang memadati arena ikut menyanyikan lagu demi lagu yang telah menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Indonesia.
Setlist ikonik yang menghidupkan sejarah dangdut
Pertunjukan dibuka dengan lagu klasik “Adu Domba”, sebuah komposisi yang sejak lama menjadi simbol kritik sosial dalam katalog Soneta. Energi penonton langsung terbangun ketika Rhoma Irama melanjutkan setlist dengan deretan lagu legendaris seperti “Begadang”, “Judi”, “Malam Minggu”, hingga “Gala Gala”.
Melalui susunan lagu tersebut, konser ini terasa seperti arsip hidup perjalanan Soneta sejak awal berdiri pada 1970—dari orkes dangdut yang berkembang di panggung-panggung rakyat hingga menjadi ikon musik nasional.
Dalam keterangannya kepada media, Rhoma Irama mengungkapkan rasa syukurnya atas perjalanan panjang tersebut.
“55 tahun adalah perjalanan yang penuh ujian dan syukur. Saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk bermusik dan menyampaikan pesan melalui karya. Terima kasih kepada FORSA dan semua yang tumbuh bersama Soneta,” ujar Rhoma.
Kolaborasi lintas genre di panggung Soneta
Salah satu daya tarik utama konser ini adalah kehadiran sejumlah musisi dari berbagai genre yang ikut merayakan pengaruh Soneta dalam lanskap musik Indonesia.
Nama-nama seperti Yuni Shara, Armand Maulana, dan Nicky Astria tampil bersama Rhoma Irama dalam beberapa segmen kolaboratif. Kehadiran mereka menegaskan bahwa pengaruh Soneta tidak terbatas pada satu generasi atau satu warna musik saja.Setiap kolaborasi memberikan warna berbeda: dari nuansa pop yang lembut hingga energi rock yang eksplosif.
Duet tak terduga yang jadi sorotan
Salah satu momen paling banyak dibicarakan malam itu adalah duet Rhoma Irama dengan Yuni Shara membawakan lagu A Whole New World, soundtrack dari film Aladdin.
Lagu tersebut dibawakan dengan pendekatan pop Barat sebelum Rhoma kembali membawa penonton ke jalur dangdut khas Soneta. Perpaduan ini menghadirkan kejutan musikal yang jarang terlihat dalam konser Rhoma sebelumnya.
Loyalitas penggemar yang tak surut
Konser ini juga menjadi ajang berkumpulnya komunitas penggemar FORSA (Fans of Rhoma Irama dan Soneta Group) yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa basis penggemar Soneta tetap kuat setelah lebih dari lima dekade.
Project Director Kolam Ikan Creative Communications, Iwan Kurniawan, menyebut konser ini bukan sekadar pertunjukan musik, tetapi juga perayaan perjalanan budaya.
“Bagi kami, ini bukan hanya tentang musik, tetapi tentang perjalanan panjang yang memberi dampak bagi banyak orang. Lagu-lagu Soneta tetap memiliki tempat di hati pendengar,” ujarnya.
Dangdut yang terus hidup
Selebrasi 55 tahun Soneta menegaskan bahwa karya-karya Rhoma Irama masih memiliki relevansi kuat di tengah perubahan lanskap musik Indonesia. Dengan lirik yang memadukan kritik sosial, nilai religius, dan cerita kehidupan sehari-hari, Soneta tetap menjadi salah satu fondasi penting dalam evolusi dangdut.
Setelah sukses di Jakarta, perayaan ini juga berlanjut melalui rangkaian konser lain, termasuk Konser Delapan Dekade yang digelar di Cirebon pada Februari 2026.
Lebih dari sekadar nostalgia, konser ini memperlihatkan satu hal yang sulit dibantah: selama lebih dari setengah abad, Soneta bukan hanya band dangdut—melainkan institusi budaya yang terus mempengaruhi cara publik Indonesia mendengar dan memahami musik rakyatnya.
