Ada sesuatu yang terasa familiar sekaligus asing ketika Gerimis merilis single debut mereka, “So Lonely.” Familiar, karena DNA rock 90-an yang mereka bawa begitu kental. Asing, karena pendekatan yang mereka pilih tidak sepenuhnya terjebak dalam nostalgia.
Terbentuk dari pertemuan tak terencana di kawasan Kota Tua Jakarta pada Februari 2026, Gerimis terdengar seperti proyek yang sejak awal ditakdirkan menjadi lebih dari sekadar band baru. Ini adalah supergrup, kumpulan musisi dengan sejarah panjang di skena rock Indonesia, sebagian di antaranya memiliki kedekatan dengan ekosistem Potlot, rumah kreatif yang selama ini identik dengan Slank.
Di garis depan, Amirzidane (Muhammad Amirudin) membawa karakter vokal yang terasah sejak era 90-an dengan latar belakang dari kru Slank hingga panggung-panggung besar seperti Soundrenaline dan Java Jazz. Ada kualitas “jalanan” dalam suaranya: tidak terlalu dipoles, tapi justru di situlah letak kejujurannya.
Di belakangnya, Gerimis membangun fondasi yang kokoh. Luciano (Bule) dan Ary mengisi ruang gitar dengan pendekatan yang cenderung langsung, riff yang tidak bertele-tele, namun efektif. Sementara itu, groove yang dibangun Jaka Jackers (eks Powerslaves, BIP) dan Obin (Steven Jam) terasa stabil tanpa kehilangan energi.
Namun yang membuat “So Lonely” tidak sekadar menjadi throwback adalah cara mereka mengolah ruang suara.
Alih-alih hanya mengandalkan distorsi dan dinamika klasik rock, Gerimis memasukkan elemen keyboard vintage yang justru menjadi salah satu highlight paling mencolok di lagu ini. Di sinilah peran Adrian Sidharta, kibordis Slank era awal terasa krusial. Sentuhan Hammond dan synth yang ia bawa memberi dimensi yang lebih luas, bahkan sedikit sinematik, pada aransemen yang sebenarnya cukup minimal.
Diproduseri oleh Bayu Randu, figur yang rekam jejaknya meliputi Edane hingga Funky Kopral—“So Lonely” terdengar rapi tanpa kehilangan rasa organiknya. Produksinya tidak berusaha terdengar terlalu “modern” dalam arti steril, melainkan tetap memberi ruang bagi karakter masing-masing instrumen untuk bernapas.
Secara tematik, lagu ini berangkat dari premis yang sederhana: menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Tapi Gerimis tidak berhenti di situ. Mereka memperluasnya menjadi refleksi tentang kesendirian yang lebih dalam—emosional, bukan sekadar fisik.
“Petunjuk arah terang justru dari kegelapan.”
Baris ini mungkin terdengar klise di atas kertas, tetapi dalam konteks lagu, ia bekerja sebagai jangkar emosional, terutama ketika dibalut dengan dinamika musik yang perlahan membangun intensitas.
Kehadiran backing vokal dari Weni Piranha juga menambah lapisan tekstur yang subtil namun efektif, memberi kontras pada karakter vokal utama yang lebih “kasar”.
Di tengah lanskap musik Indonesia yang semakin didominasi oleh produksi digital yang serba presisi, Gerimis justru mengambil jalur yang sedikit berbeda. Mereka tidak sepenuhnya menolak modernitas, tetapi juga tidak tunduk padanya.
“So Lonely” mungkin bukan lagu yang mencoba mendefinisikan ulang rock Indonesia. Namun, ia menawarkan sesuatu yang sering terlupakan: keseimbangan antara pengalaman, rasa, dan kesadaran akan konteks zaman.
Untuk sebuah debut, itu lebih dari cukup untuk membuat Gerimis layak diperhatikan.
