{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":[],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"transform":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}
Comeback Kid kembali ke Jakarta dengan satu misi yang jelas: merayakan dua dekade “Wake The Dead” dalam format yang paling mendekati akar hardcore mereka. Bukan panggung festival raksasa atau produksi megah, melainkan sebuah klub malam di jantung SCBD. Pada Selasa (27/1), Zoo berubah fungsi total menjadi ruang pelepasan energi, tempat Comeback Kid yang kali ini datang dengan formasi Andrew Neufeld (vokal), Jeremy Hiebert (gitar), Stu Ross (gitar), Chase Brenneman (bass) dan Terrance Pettitt (drum – turing) menunjukkan mengapa album tersebut masih relevan 20 tahun kemudian.
Konser yang dipromotori Ageless Galaxy (AGLXY) bersama Swillhouse Fam ini menjadi bagian dari tur Asia Comeback Kid, setelah Jepang dan sebelum Australia. Format intimate show dipilih bukan sekadar nostalgia, tetapi juga pernyataan sikap. Hardcore, seperti yang mereka peragakan malam itu, memang bekerja paling efektif ketika jarak antara band dan penonton dihilangkan.
Sejak awal, atmosfer sudah dibangun oleh band pembuka lokal Outrage, Alone at Last, Modern Guns dan Final Attack. Meski waktu tampil terbatas, keempatnya berhasil menjaga intensitas dan mempersiapkan lantai venue untuk apa yang akan terjadi berikutnya. Ketika giliran Comeback Kid, energi penonton sudah berada di titik didih.
Sambutan emosional dari Co-Founder Ageless Galaxy, Tamish Aswani menjadi satu-satunya momen hening malam itu. Kisah personalnya tentang perjuangan melawan kanker stadium empat memberi konteks emosional yang kuat, meski durasinya sedikit memperlambat momentum. Namun begitu Andrew Neufeld naik ke panggung, semua kembali ke jalurnya.

Foto: QB
Set dibuka dengan “False Idols Fall”, pilihan yang tepat untuk langsung menghancurkan jarak antara panggung dan penonton. Moshing terjadi spontan dan merata, tanpa komando panjang. Comeback Kid tidak memberi banyak ruang bernapas, melanjutkan dengan “My Other Side”, “The Trouble I Love”, dan “Talk Is Cheap”. Eksekusi lagu-lagu lama terdengar mentah, cepat, dan nyaris tanpa polesan, sebuah keputusan yang justru memperkuat karakter mereka.

Andrew tampil agresif namun cair. Ia beberapa kali berpindah posisi, turun ke tengah kerumunan, dan mengarahkan circle pit tanpa terkesan memaksa. Interaksinya singkat, fungsional, dan efektif. Bahkan sapaan sederhana “Terima kasih” dalam bahasa Indonesia terasa cukup untuk menjaga koneksi dengan audiens lokal.Paruh tengah konser diisi dengan “Falling Apart”, “Losing Patience”, “Final Goodbye”, dan “Heavy Steps”. Di titik ini, stamina penonton mulai diuji, namun Comeback Kid tampak sengaja mempertahankan tempo tanpa kompromi. Tidak ada upaya untuk memperindah transisi atau memberi jeda panjang. Ini bukan konser untuk penonton pasif.
Pernyataan Andrew tentang jarak antara band dan penonton saat tampil di Hammersonic dibandingkan malam itu terasa relevan. Di Zoo SCBD, Comeback Kid benar-benar berada di level yang sama dengan audiens. Tidak ada batas visual maupun emosional. Namun, konsekuensinya adalah kualitas suara yang sesekali terasa kurang seimbang, terutama di bagian vokal, akibat desain venue yang memang tidak dirancang untuk hardcore show.
Menjelang akhir, “Step Ahead” dan “Broadcasting…” menjaga intensitas tetap tinggi sebelum “Wake The Dead” diturunkan sebagai penutup. Lagu ini berfungsi bukan hanya sebagai klimaks, tetapi juga sebagai pengingat mengapa album tersebut menjadi titik balik karier Comeback Kid. Dua dekade berlalu, namun daya ledaknya masih terasa relevan dan tidak kehilangan urgensi.Secara keseluruhan, konser ini berhasil sebagai perayaan sekaligus pernyataan. Comeback Kid tidak mencoba menjadi band nostalgia. Mereka tidak menjual romantisme masa lalu, melainkan membuktikan bahwa energi dan sikap yang membesarkan “Wake The Dead” masih hidup. Meski ada kompromi teknis kecil, pendekatan jujur dan tanpa basa-basi ini justru memperkuat pengalaman. Bagi penggemar hardcore, malam di Zoo SCBD bukan sekadar tontonan, melainkan pengingat tentang mengapa musik ini lahir dan bertahan.
