Kembalinya Josh Groban ke Jakarta: Nostalgia, Refleksi, dan Kematangan Artistik dalam Gems World Tour 2026
Setelah satu dekade absen, Josh Groban akhirnya kembali menyapa penggemar Indonesia melalui konser “Josh Groban Gems World Tour 2026” yang digelar di The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place pada Minggu (15/2). Pertunjukan ini menjadi bagian dari tur dunia sekaligus refleksi perjalanan karier Groban yang telah melampaui dua dekade.
Sejak awal konser, atmosfer nostalgia langsung terasa. Konser yang dinanti itu dibuka dengan penuh semangat lewat lagu You Are Loved (Don’t Give Up). Pilihan lagu pembuka ini menjadi pernyataan emosional yang kuat, dengan aransemen megah dan vokal Groban yang langsung mengisi ruang pertunjukan secara penuh. Pesan optimisme dalam lagu tersebut terasa relevan dan menyentuh, sekaligus membangun kedekatan awal antara sang penyanyi dan penonton. Groban menyapa penonton dengan hangat, mengaku telah lama menantikan momen kembali tampil di Jakarta. Ia menyampaikan betapa lamanya ia ingin kembali ke kota tersebut dan betapa indahnya bisa akhirnya tampil di hadapan publik Indonesia.
Konser ini sekaligus mempromosikan album kompilasi terbarunya, Hidden Gems, yang dirilis pada 2025 sebagai perayaan lebih dari 20 tahun kariernya. Lagu terbaru “Be Alright” turut dibawakan, berdampingan dengan deretan tembang yang telah menjadi bagian penting perjalanan musikalnya seperti “Don’t Give Up”, “Pure Imagination”, “Granted”, “February Song”, dan “Alla Luce Del Sole”.
Groban juga membawakan lagu Angels yang dipopulerkan oleh Robbie Williams. Interpretasinya menghadirkan nuansa yang lebih teatrikal dan dramatis, selaras dengan karakter vokalnya yang kuat dan resonan. Ia tidak berupaya meniru versi asli, melainkan menafsirkan ulang lagu tersebut dengan pendekatan vokal khasnya, menjadikannya momen reflektif yang berbeda dari versi pop stadium milik Williams.
Dengan dukungan orkestra dan paduan suara lokal, aransemen lagu-lagu terdengar megah dan emosional. Tata panggung yang elegan memperkuat karakter vokal Groban yang dramatis, menciptakan suasana intim meski berada dalam ballroom berkapasitas besar.
Di tengah pertunjukan, Groban mengejutkan penonton dengan unjuk kemampuan bermain drum. Aksi ini memperlihatkan sisi musikalitasnya yang jarang disorot dalam konser-konser sebelumnya. Momen tersebut memberi dinamika ritmis yang menyegarkan di antara dominasi balada, sekaligus menegaskan bahwa Groban adalah musisi yang memahami struktur musik secara menyeluruh, bukan sekadar vokalis dengan teknik tinggi.
Nostalgia kian terasa ketika ia menyanyikan “Aléjate” dan “To Where You Are”, dua lagu dari album debutnya tahun 2001 yang masih dihafal para penggemar. Ia berbagi cerita tentang bagaimana “To Where You Are” kerap menjadi penguat bagi mereka yang sedang berduka, menjadikan lagu itu bukan sekadar nomor pembuka karier, tetapi juga bagian dari perjalanan emosional banyak orang.

Salah satu sorotan malam itu adalah kolaborasi dengan Raisa. Alih-alih membawakan “The Prayer” seperti yang diprediksi banyak pihak, keduanya justru menyanyikan “All I Ask of You”. Chemistry vokal keduanya terasa hangat dan seimbang. Raisa tampil dengan kontrol vokal yang stabil, sementara Groban memberi ruang dialog musikal yang tidak dominan, menciptakan duet yang elegan meski sebagian penonton sempat berharap pilihan lagu yang lebih populer.
Beberapa lagu favorit seperti “Per Te”, “When You Say You Love Me”, dan “Broken Vow” memang tidak masuk dalam daftar lagu. Ketiadaan “Broken Vow”, balada yang sangat populer secara global, sempat mengecewakan sebagian penonton. Namun, dalam konteks konser yang digelar bertepatan dengan nuansa Valentine, setlist yang lebih optimistis dan penuh harapan terasa konsisten dengan tema emosional yang ingin dibangun.
Lagu “You Raise Me Up” menjadi momen puncak menjelang encore, menghadirkan koor massal dari seluruh ballroom. Atmosfer kolektif ini memperlihatkan daya tahan lagu tersebut sebagai anthem lintas generasi. Groban kemudian menutup konser dengan “Over the Rainbow” dan “Bridge Over Troubled Water”, dua lagu klasik yang ia bawakan dengan pendekatan teatrikal namun tetap hangat, meninggalkan kesan megah sekaligus personal.
Di sela konser, Groban berbagi kisah tentang masa kecilnya yang pemalu dan peran guru-gurunya dalam membangun kepercayaan diri. Ia mengenang bagaimana piano di rumah menjadi pelarian emosionalnya. Ia juga mengungkap tantangan mental di awal kariernya, termasuk tekanan popularitas instan di usia 17 tahun. Groban menyebut David Foster sebagai sosok penting yang mendorongnya menulis lagu sendiri—sebuah keputusan yang menjadi titik balik artistiknya.

Sebagai kejutan, Groban membawakan “Skyfall” milik Adele, yang akan masuk dalam album studio terbarunya bertema lagu-lagu film legendaris. Versi yang ia sajikan lebih teatrikal dan bernuansa sinematik, menjadi teaser yang menjanjikan untuk proyek yang dijadwalkan rilis dalam beberapa bulan ke depan.
Secara keseluruhan, Gems World Tour 2026 di Jakarta bukan sekadar konser nostalgia. Ia adalah refleksi perjalanan seorang penyanyi yang telah berdamai dengan masa lalunya, matang secara artistik, dan tetap relevan di tengah perubahan industri musik global. Groban tampil bukan hanya sebagai bintang, melainkan sebagai storyteller yang mengajak penonton menelusuri fase-fase kehidupan melalui musik.
