Ada kehangatan luar biasa yang membalut area Istora Senayan, Jakarta Pusat, pada Sabtu malam (18/7/2026). Setelah delapan tahun berlalu sejak penampilan terakhir mereka di panggung We The Fest 2018, kuintet alternative rock asal California, Amerika Serikat, The Neighbourhood, akhirnya resmi menyapa kembali para penggemarnya di Indonesia.
Konser bertajuk The Wourld Tour 2026 ini menjadi momen yang sangat dinantikan. Bukan sekadar bagian dari rangkaian tur dunia untuk mempromosikan album teranyar mereka, (((((ultraSOUND))))), pertunjukan ini juga menandai masa comeback resmi Jesse Rutherford dan kawan-kawan ke panggung musik internasional setelah sempat vakum selama beberapa tahun.
Awal Gelombang Nostalgia dan Babak Baru
Sejak tirai pertunjukan dibuka, interaksi intim antara panggung dan penonton langsung terasa begitu kuat. The Neighbourhood membuka set mereka lewat tembang “Hula Girl”, yang kemudian disusul oleh hentakan “OMG” dan nada emosional dari “Cry Baby”. Karisma Jesse Rutherford sebagai sang vokalis begitu memikat—dengan gaya khasnya yang santai namun karismatik, ia berhasil memandu lautan manusia untuk larut dalam setiap lirik yang ia lantunkan.
Secara keseluruhan, band asal California ini memanjakan penonton dengan membawakan kurang lebih 21 lagu sepanjang malam. Tak hanya mengajak ribuan pasang mata bernostalgia lewat lagu-lagu ikonis yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup para penggemarnya, mereka juga memperkenalkan warna musik baru.
Sekitar lima lagu dari album teranyar (((((ultraSOUND))))) turut dibawakan secara apik, termasuk tiga trek yang mencuri perhatian malam itu: “Planet”, “Private”, dan “Lovebomb”.
foto: Chakra Live Asia
Sinergi Gemuruh dan Janji yang Mengikat
Atmosfer di dalam gedung Istora Senayan mencapai puncak energinya saat lagu-lagu hits yang paling dinanti mulai dikumandangkan. Suara ribuan penonton menyatu dalam momen sing-along kolosal ketika intro lagu-lagu favorit seperti “Reflections”, “Daddy Issues”, “A Little Death”, hingga “You Get Me So High” menggema di seluruh sudut arena.
Momen paling emosional justru terjadi mendekati penghujung pertunjukan. Setelah membawakan tembang megah “Sweater Weather” yang membuat seluruh penonton bersorak histeris, suasana panggung mendadak hening dan menjadi sangat personal.
Sebelum beranjak melantunkan nada awal dari lagu penutup “Softcore”, Jesse Rutherford mengambil jeda sejenak untuk menatap lautan penggemarnya di Jakarta. Dengan nada tulus, ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam sekaligus mengumandangkan janji manis bagi publik Indonesia.
“Terima kasih semuanya, kami akan kembali. Ini lagu terakhir kami,” tutur Jesse dengan hangat sebelum memicu intro lagu “Softcore”.
Pernyataan Emosional Sebuah Pertunjukan
Konser perdana The Neighbourhood dalam format pertunjukan tunggal di Jakarta ini membuktikan satu hal: waktu tidak memudarkan ikatan antara mereka dan para pendengarnya di Indonesia. Malam itu di Istora Senayan, bukan hanya sebuah konser yang sukses digelar, melainkan sebuah reuni emosional yang hangat, bertabur nostalgia, dan ditutup dengan janji bahwa perjalanan mereka di Indonesia masih jauh dari kata usai.