Kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah elektronik (e-waste) terus menjadi perhatian di tengah meningkatnya penggunaan perangkat teknologi. Menjawab tantangan tersebut, EwasteRJ bersama Acer Indonesia resmi meluncurkan program “Sayang Bumi 2026”, sebuah gerakan pengelolaan limbah elektronik berbasis sekolah yang melibatkan 50 SMA di wilayah Jabodetabek.
Peluncuran program berlangsung di Ruang Serba Guna SMAN 82 Jakarta Selatan, Kamis (11/6), bertepatan dengan momentum peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Melalui program ini, puluhan sekolah akan berkompetisi mengumpulkan sampah elektronik dengan target total mencapai 5 ton atau 5.000 kilogram hingga November 2026.
Inisiatif tersebut hadir di tengah meningkatnya persoalan limbah elektronik secara global. Data Global E-Waste Monitor mencatat bahwa dunia menghasilkan puluhan juta ton sampah elektronik setiap tahun, sementara sebagian besar di antaranya belum dikelola melalui proses daur ulang yang tepat. Indonesia sendiri menjadi salah satu penyumbang limbah elektronik terbesar di Asia Tenggara dengan volume yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Founder dan CEO EwasteRJ, Rafa Jafar, menjelaskan bahwa program ini merupakan kelanjutan dari perjalanan panjang yang telah ia jalani sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Berawal dari keresahan melihat perangkat elektronik rusak yang hanya menumpuk di rumah tanpa saluran pembuangan yang jelas, ia terus mengembangkan gagasan tersebut hingga menjadi sebuah sistem pengelolaan limbah elektronik yang kini melibatkan puluhan sekolah.
Menurut Rafa, pelaksanaan Sayang Bumi 2026 memiliki relevansi yang kuat dengan upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang akan memperketat aturan pemilahan sampah dan menghentikan praktik open dumping mulai Agustus 2026. Ia menilai sekolah-sekolah yang terlibat dalam program ini telah mengambil langkah lebih awal untuk mengelola limbah elektronik yang tergolong berbahaya bagi lingkungan.
“Sepuluh tahun lalu saya melihat sampah elektronik hanya disimpan di laci karena tidak ada tempat pembuangannya. Hari ini keresahan tersebut telah berkembang menjadi sebuah sistem nyata yang melibatkan puluhan sekolah,” ujar Rafa.
Sebagai salah satu program pengelolaan e-waste berbasis sekolah terbesar di Indonesia, Sayang Bumi 2026 diselenggarakan tanpa biaya bagi seluruh peserta. Dukungan Acer Indonesia memungkinkan sekolah memperoleh berbagai fasilitas, mulai dari edukasi ekonomi sirkular, pembentukan agen perubahan lingkungan atau SayangBumi Changemaker, penyediaan dropbox permanen untuk limbah elektronik, layanan pengangkutan yang aman dan terlacak, hingga sertifikat resmi daur ulang.
President Director Acer Indonesia, Leny Ng, menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan masa depan lingkungan. Karena itu, sekolah dipilih sebagai titik awal untuk membangun budaya pengelolaan limbah elektronik yang bertanggung jawab.

“Perubahan nyata lahir dari langkah kolektif yang dilakukan secara konsisten. Kami percaya generasi muda memiliki kemampuan untuk memimpin perubahan dan menciptakan dampak positif bagi lingkungan,” kata Leny.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan pelajar dalam program ini diharapkan tidak hanya membantu mengurangi timbunan limbah elektronik, tetapi juga membangun kesadaran bahwa tindakan sederhana dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan bumi.
Untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas, seluruh sampah elektronik yang terkumpul dari dropbox sekolah akan ditimbang, dicatat, dan disalurkan ke fasilitas daur ulang berizin yang menjadi mitra EwasteRJ. Limbah tersebut kemudian akan diproses kembali menjadi bahan baku sirkular melalui mekanisme yang aman dan sesuai standar lingkungan.
Melalui kolaborasi ini, EwasteRJ dan Acer Indonesia berharap dapat membentuk ekosistem pengelolaan limbah elektronik yang berkelanjutan sekaligus menjadikan sekolah sebagai pusat edukasi dan aksi nyata dalam menghadapi tantangan lingkungan di masa depan.
