Prambanan Jazz Festival 2026 resmi membuka rangkaian perayaannya pada Jumat (3/7/2026) dengan menghadirkan malam yang dipenuhi musik, seni, dan kebersamaan. Mengusung tema besar “Celebrate The Joy”, festival tahunan yang berlangsung di kawasan Candi Prambanan, Yogyakarta, kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu festival musik paling unik di Indonesia, tempat musisi lintas genre, budaya, dan generasi bertemu dalam satu panggung.
Lebih dari sekadar festival musik, Prambanan Jazz Festival tahun ini menghadirkan pengalaman yang dimulai bahkan sebelum penonton menyaksikan penampilan para musisi.
Gerbang Menuju Perayaan Sukacita
Ribuan pengunjung disambut sebuah instalasi gerbang karya seniman Eko Nugroho yang berdiri megah di pintu masuk festival. Perpaduan ilustrasi monokrom dengan semburat warna-warna cerah berpadu harmonis dengan latar kemegahan Candi Prambanan, menciptakan pengalaman visual yang menjadi simbol dimulainya perjalanan penuh imajinasi sekaligus sukacita.
Instalasi tersebut menjadi representasi awal dari tema “Celebrate The Joy”, sebuah ajakan untuk menikmati musik sebagai ruang bertemu, berbagi cerita, dan merayakan kebersamaan.

“Playing Jazz”, Saat Musisi Keluar dari Zona Nyaman
Konsep khusus bertajuk “Playing Jazz” menjadi benang merah hari pertama festival. Para musisi lintas genre diajak menginterpretasikan ulang karya-karya mereka dalam balutan aransemen jazz yang segar dan penuh eksplorasi.
The Panturas tampil berkolaborasi bersama La Fontana Punks, menghadirkan energi surf rock yang dipadukan nuansa jazz. Sementara itu, Perunggu mengejutkan penonton lewat kolaborasi bersama Little Fingers yang memperlihatkan sisi musikal mereka yang lebih halus namun tetap bertenaga.
Salma Salsabil pun tampil berbeda. Penyanyi muda tersebut memperkaya lagu-lagunya dengan improvisasi jazz yang memberikan warna baru pada penampilannya.
Deretan musisi nasional lainnya seperti Sal Priadi, Barasuara, Idgitaf, Mocca, Lomba Sihir, hingga Trisum turut menyuguhkan interpretasi musikal yang membuat konsep “Playing Jazz” terasa hidup sepanjang hari pertama festival.
Panggung Langgam Jadi Ruang Bertemu Musisi dan Penggemar
Keseruan festival tidak hanya berlangsung di panggung utama. Di area Panggung Langgam, suasana terasa lebih intim ketika Mocca dan The Panturas menggelar sesi tanda tangan rilisan fisik sekaligus berbincang santai bersama para penggemar.
Interaksi langsung tersebut menjadi salah satu daya tarik tersendiri, memperlihatkan bagaimana Prambanan Jazz Festival tak hanya menyajikan konser, tetapi juga menciptakan ruang pertemuan antara musisi dan penikmat musik.

Foto: Rajawali Indonesia
Michael Learns To Rock Hadirkan Malam Nostalgia yang Menghangatkan Prambanan
Memasuki malam, atmosfer festival berubah menjadi penuh nostalgia ketika Michael Learns To Rock (MLTR) naik ke panggung sebagai salah satu penampil utama.
Band legendaris asal Denmark yang digawangi Jascha Richter, Mikkel Lentz, dan Kåre Wanscher itu tampil di hadapan lebih dari 30 ribu penonton, menghadirkan perjalanan emosional melalui lagu-lagu yang telah menemani berbagai generasi selama lebih dari tiga dekade.
Konser dibuka lewat “Someday” dan “Sleeping Child”, sebelum dilanjutkan dengan sederet lagu ikonis seperti “Breaking My Heart”, “You Took My Heart Away”, “25 Minutes”, “Paint My Love”, hingga ditutup dengan “That’s Why (You Go Away)” yang dinyanyikan bersama ribuan penonton.
Sepanjang konser, suasana terasa begitu hangat. Jascha Richter bahkan sempat melontarkan candaan yang langsung disambut tawa penonton.
“Tonight, Michael Learns To Jazz.”
Kalimat sederhana tersebut menjadi simbol bagaimana MLTR ikut merayakan konsep “Playing Jazz” yang diusung Prambanan Jazz Festival tahun ini.
Indonesia, Rumah Kedua Michael Learns To Rock
Momen paling emosional terjadi ketika Jascha Richter mengungkapkan alasan mengapa Indonesia memiliki tempat yang sangat istimewa dalam perjalanan karier Michael Learns To Rock.
Menurutnya, ketika lagu “The Actor” belum mendapat perhatian di banyak negara, justru stasiun-stasiun radio di Indonesia yang lebih dahulu memutarnya secara rutin. Dukungan tersebut kemudian membuka jalan hingga lagu tersebut dikenal luas di berbagai belahan dunia.
Pengakuan tersebut langsung disambut tepuk tangan panjang dari ribuan penonton yang memadati area konser.
Di bawah langit malam Prambanan dengan latar megah candi yang menjadi warisan dunia, penampilan MLTR terasa bukan sekadar konser nostalgia, melainkan perayaan hubungan panjang antara band asal Denmark tersebut dengan para penggemarnya di Indonesia.
Xdinary Heroes Tutup Malam dengan Ledakan Energi
Ketika malam semakin larut, giliran band rock asal Korea Selatan, Xdinary Heroes, mengambil alih panggung dan menghadirkan salah satu penampilan paling eksplosif pada hari pertama festival.
Sejak membuka konser dengan lagu terbaru mereka, “Voyager”, energi penonton langsung memuncak. Fan chant bergema hampir sepanjang penampilan ketika mereka membawakan lagu-lagu seperti “ICU”, “Freakin’ Bad”, “Diamond”, “PLUTO”, “Night of Fireworks”, hingga encore “Money On My Mind”.
Selama hampir satu jam, Xdinary Heroes sukses mengubah kawasan Candi Prambanan menjadi lautan cahaya dan suara para Villains—sebutan bagi penggemar mereka.
Villains Indonesia Bikin Sejarah dengan Menyewa Tujuh Gerbong Kereta
Antusiasme Villains Indonesia menjadi salah satu cerita terbesar pada hari pertama festival.
Demi menyaksikan penampilan idola mereka, komunitas penggemar Xdinary Heroes kompak menyewa hingga tujuh gerbong kereta menuju Yogyakarta. Aksi tersebut menjadi bukti besarnya antusiasme penggemar K-rock di Indonesia sekaligus memperlihatkan bagaimana musik mampu menyatukan ribuan orang dari berbagai daerah.
Perjalanan mereka bahkan mencuri perhatian publik sejak keberangkatan. Salah satu personel Xdinary Heroes, Junhan, juga sempat menjadi sorotan karena mengenakan kemeja batik sejak bertolak dari Bandara Incheon hingga tiba di Indonesia.
Tak hanya itu, penulis ternama Dee Lestari turut terlihat menikmati penampilan Jooyeon dan kawan-kawan dari area tribun, menunjukkan bahwa pesona Xdinary Heroes berhasil menjangkau berbagai kalangan.
Pembuka yang Menegaskan Arti “Celebrate The Joy”
Hari pertama Prambanan Jazz Festival 2026 menjadi pembuka yang sempurna. Perpaduan seni visual, eksplorasi musik jazz, penampilan musisi nasional dan internasional, hingga antusiasme ribuan penonton berhasil menerjemahkan makna tema “Celebrate The Joy” ke dalam pengalaman yang nyata.
Festival ini kembali membuktikan bahwa musik mampu menjadi bahasa universal yang menyatukan berbagai generasi, budaya, dan latar belakang dalam satu ruang yang sama.
Perayaan tersebut masih akan berlanjut pada hari-hari berikutnya dengan deretan penampilan spesial dan berbagai kejutan lain yang siap menjadikan Prambanan Jazz Festival 2026 sebagai salah satu momen musik paling berkesan tahun ini.
