Festival Film Horor (FFH) kembali digelar untuk edisi ke-5 dengan mengangkat diskusi seputar praktik sensor dan strategi promosi dalam film horor Indonesia. Acara yang berlangsung di Pictum Cafe pada 13 April ini menghadirkan sejumlah pelaku industri untuk membedah dinamika di balik layar produksi hingga distribusi film horor.
Mengusung tema “Horor, Sensor, Promosi Film Horor”, diskusi menghadirkan penggiat dan kritikus film, editor, serta praktisi produksi yang menyoroti bagaimana proses sensor tidak hanya terjadi di tahap akhir melalui Lembaga Sensor Film, tetapi sudah dimulai sejak tahap pengembangan ide.
Dalam diskusi terungkap bahwa praktik “sensor internal” kerap dilakukan oleh rumah produksi, termasuk menjaga kerahasiaan judul hingga konsep cerita demi menghindari kebocoran ide. Sementara dari sisi produksi, pendekatan berbasis kisah nyata disebut menjadi salah satu strategi untuk mempermudah lolos sensor, meski tetap berhadapan dengan batasan dari pihak keluarga atau pihak terkait.

Para pembicara juga menekankan bahwa sensor tidak semata menjadi pembatas kreativitas, melainkan bagian dari mekanisme budaya dan regulasi untuk menjaga dampak negatif film di masyarakat. Hal ini juga berlaku dalam tahap promosi, di mana materi kampanye tetap harus mengikuti norma yang berlaku agar tidak menimbulkan keresahan publik.
Selain diskusi, FFH edisi ini juga memberikan apresiasi terhadap karya dan insan perfilman horor. Film Suzanna: Santet Dosa Diatas Dosa terpilih sebagai film terbaik dan meraih penghargaan Nini Suny Award.
Sementara itu, Sandrinna Michelle dinobatkan sebagai Pemeran Wanita Terpilih, dan Iwa K sebagai Pemeran Pria Terpilih. Penghargaan Sutradara Terpilih diberikan kepada Awi Suryadi, serta DoP Terpilih diraih oleh Muhammad Firdaus.
Melalui diskusi dan penghargaan ini, FFH terus menegaskan perannya sebagai ruang dialog sekaligus apresiasi bagi perkembangan film horor Indonesia yang kian berkembang.
