Perseteruan lama antara System of a Down dan Oasis kembali menjadi perbincangan setelah Daron Malakian melontarkan sindiran kepada band Britpop asal Manchester tersebut saat tampil di Tottenham Hotspur Stadium, London, Senin (13/7). Di hadapan sekitar 50 ribu penonton, gitaris sekaligus vokalis System of a Down itu memanfaatkan salah satu lagu paling ikonis milik bandnya untuk menghidupkan kembali rivalitas yang telah berlangsung lebih dari dua dekade.
Momen itu terjadi ketika Malakian memperkenalkan “Needles”, lagu dari album Toxicity (2001) yang dikenal melalui lirik satirnya tentang “cacing pita” sebagai metafora atas berbagai bentuk kecanduan dan keterikatan. Sebelum lagu dimulai, Malakian menyapa penonton dengan kalimat yang langsung memancing gelak tawa.
“Kami punya lagu tentang cacing pita. Hari ini saya akan menamai cacing pita itu ‘Oasis’,” ujarnya dari atas panggung.
Ucapan tersebut langsung disambut sorakan puluhan ribu penonton. Ketika memasuki bagian paling dikenal dari lagu itu, massa secara spontan mengubah lirik ikonis “Pull the tapeworm out of your ass!” menjadi “Pull Oasis out of your ass!”, menciptakan salah satu momen paling riuh sekaligus paling banyak dibagikan di media sosial sepanjang konser.
Bagi para penggemar rock, candaan tersebut bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Sindiran itu merujuk pada perseteruan panjang antara System of a Down dan Oasis yang bermula pada awal dekade 2000-an.
Saat itu, Noel Gallagher pernah melontarkan kritik keras terhadap System of a Down dalam sebuah wawancara radio. Gitaris dan penulis lagu utama Oasis tersebut bahkan menyebut mereka sebagai “band terburuk sepanjang masa”. Pernyataan itu sempat menjadi perdebatan di kalangan penggemar musik rock, mengingat saat itu System of a Down tengah berada di puncak popularitas berkat kesuksesan album Toxicity yang melahirkan lagu-lagu seperti “Chop Suey!”, “Aerials”, dan “Needles”.
Meski komentar Noel Gallagher telah berusia lebih dari 20 tahun, sindiran Malakian di London menunjukkan bahwa kisah tersebut masih hidup dalam ingatan para personel maupun penggemar. Menariknya, aksi itu dilakukan di Inggris, negara asal Oasis, sehingga memberikan dimensi simbolis tersendiri bagi momen tersebut.
Konser di Tottenham Hotspur Stadium juga menjadi salah satu penampilan terbesar System of a Down di Inggris dalam hampir satu dekade. Penampilan mereka menjadi bagian dari rangkaian konser yang mempertemukan sejumlah nama besar dalam musik rock dan metal, dengan Queens of the Stone Age serta Acid Bath dipercaya membuka pertunjukan sebelum System of a Down mengambil alih panggung utama.
Sepanjang malam, band yang digawangi Serj Tankian, Daron Malakian, Shavo Odadjian, dan John Dolmayan itu membawakan deretan lagu yang telah menjadi katalog klasik mereka. Lagu-lagu seperti “B.Y.O.B.”, “Sugar”, “Aerials”, “Chop Suey!”, hingga “Toxicity” disambut mosh pit tanpa henti, sementara ribuan penonton ikut menyanyikan hampir setiap lirik dari awal hingga akhir pertunjukan.
Di tengah penampilan penuh energi tersebut, momen saat “Needles” dimainkan justru menjadi sorotan utama. Video yang memperlihatkan puluhan ribu penonton meneriakkan versi modifikasi lirik lagu itu dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial, memancing diskusi baru mengenai rivalitas lama antara dua band yang berasal dari dunia musik yang sangat berbeda.
Meski dikenal berasal dari spektrum musik yang berbeda—System of a Down dengan karakter alternative metal yang eksperimental dan sarat kritik sosial, sementara Oasis identik dengan Britpop yang melodis—kedua band sama-sama menjadi ikon besar musik era 1990-an dan awal 2000-an. Tidak mengherankan jika setiap sindiran yang melibatkan nama keduanya selalu menarik perhatian penggemar lintas generasi.
Bagi sebagian orang, komentar Daron Malakian mungkin tidak lebih dari sekadar humor panggung. Namun, bagi penggemar lama yang mengikuti sejarah kedua band, momen tersebut menjadi babak terbaru dari salah satu rivalitas paling dikenang dalam sejarah rock modern. Dua dekade telah berlalu sejak komentar Noel Gallagher memicu ketegangan itu, tetapi konser di London membuktikan bahwa beberapa kisah dalam dunia rock tampaknya tidak pernah benar-benar usai.
