Tepat sembilan tahun setelah penampilan terakhirnya di Ballroom Hotel Ritz-Carlton (Jakarta), Bryan Adams akhirnya kembali ke Indonesia lewat tangan dingin promotor legendaris Rajawali Indonesia—dan ia melakukannya dengan cara yang mengingatkan publik mengapa namanya tetap berdiri kokoh dalam kanon rock populer. Tampil di Beach City International Stadium (BCIS) Ancol pada Selasa malam, 3 Februari 2026, musisi asal Kanada ini menggelar konser yang bukan sekadar ajang nostalgia, melainkan perayaan konsistensi artistik dan ketahanan seorang ikon.
Konser Jakarta ini merupakan bagian dari rangkaian tur Asia “Roll The Punches”, yang juga menyambangi Jepang, Filipina, Malaysia, dan Singapura. Malam itu dibuka oleh Rony Parulian dan Ari Lasso sebagai Special Guest—dua nama lintas generasi yang berfungsi efektif sebagai pengantar, meski sorotan utama jelas tertuju pada sang legenda.
Alih-alih muncul dengan kemegahan panggung stadion, Bryan Adams justru memilih pendekatan personal. Ia hadir dari sisi kiri (penonton) di depan panggung utama, tepat di tengah area penonton festival—sebuah keputusan artistik yang sederhana namun kuat, sekaligus memutus jarak antara ikon dan audiens. Teriakan histeris yang langsung pecah menjadi penanda bahwa koneksi emosional itu masih utuh.
Dua lagu pembuka, “Can’t Stop This Thing We Started” dan “Straight From the Heart”, dibawakan secara akustik dengan gitar dan kemudian, harmonika. Tanpa produksi berlebihan, Adams menegaskan kekuatan utamanya: penulisan lagu yang solid dan vokal serak khas yang masih terdengar meyakinkan. Transisi ke panggung utama—diiringi pergantian instrumen ke bass—menjadi titik balik energi, membuka babak rock yang lebih eksplosif.
Deretan lagu seperti “Kick Ass”, “Run to You”, dan “Somebody” mengalir dengan tempo stabil dan aransemen yang relatif setia pada versi studio. Pendekatan ini mungkin terasa aman, namun justru itulah kekuatannya: Bryan Adams memahami bahwa lagu-lagu ini telah menjadi milik publik. “Do I Have to Say Words?” memberi ruang napas emosional, sebelum “Roll It with the Punches” kembali mengangkat tensi, lengkap dengan balon raksasa berbentuk sarung tangan tinju yang terbang diatas penonton bak drone—visual yang playful tanpa terasa berlebihan.
Momen krusial konser hadir saat intro “Heaven” dimainkan. Ribuan penonton langsung bernyanyi serempak, menciptakan salah satu koor massal paling kuat malam itu. Versi yang sedikit lebih cepat dari rekaman asli tidak mengurangi daya emosionalnya, justru memberi kesan segar. Lagu-lagu seperti “Never Let You Go” dan “This Time” menjaga momentum, didukung visual video musik yang memperkuat nuansa retrospektif.

Setelah “I Finally Found Someone” melunakkan suasana, Adams kembali memanaskan stadion lewat “Heat of the Night”. Interaksinya terasa cair dan tanpa pretensi, terutama saat kamera menyorot penonton yang ikut menari, saat lagu “You Belong To Me” dimainkan —sebuah pengingat bahwa konser ini bukan pertunjukan satu arah.
Set akustik di “Have You Ever Really Loved a Woman?” dan “Here I Am” menegaskan sisi romantis yang menjadi tulang punggung kariernya. Namun Adams tidak terjebak dalam balada; “The Only Thing That Looks Good on Me Is You” kembali memacu energi, menunjukkan bahwa swagger rock-nya belum sepenuhnya pudar.
Puncak emosional malam itu tak terelakkan saat “(Everything I Do) I Do It for You)” menggema di seluruh stadion. Di usia yang telah melewati kepala enam, Bryan Adams tampil nyaris tanpa jeda panjang—sebuah pencapaian fisik sekaligus mental yang patut dicatat. Ia kemudian memperkenalkan para personel band: Keith Scott (gitar), Gary Brett (keyboard), dan Pat Steward (drum), sebelum menutup set utama dengan “Back to You” dan anthem lintas generasi “Summer of ’69”.
Setelah “Cut Like a Knife”, konser ditutup lewat “All for Love” versi akustik. Tidak ada ledakan konfeti atau klimaks visual berlebihan—hanya lagu, cahaya yang meredup, dan perasaan kolektif bahwa malam itu menjadi pertemuan yang lama dinanti.
Konser ini mungkin tidak menawarkan kejutan radikal atau reinterpretasi ekstrem. Namun justru di situlah kekuatannya. Bryan Adams datang ke Jakarta dengan kejujuran artistik, disiplin panggung, dan keyakinan penuh pada katalog lagunya. Dalam lanskap musik yang terus berubah, konser ini menjadi pengingat bahwa rock klasik, ketika dimainkan dengan keyakinan dan integritas, masih mampu menggema kuat di hadapan generasi lama maupun baru.
