Karya-karya legendaris duo musisi 2D, yang digawangi Deddy Dhukun dan almarhum Dian Pramana Poetra, kembali hidup dalam gelaran Konser Tribute To 2D yang berlangsung di deConcert Room, Deheng House, Kemang, Jakarta Selatan, pada Selasa (25/8). Pertunjukan eksklusif yang diprakarsai Deheng House bersama Bookcabin dan DMC itu menghadirkan deretan musisi dari generasi berbeda dalam satu panggung penuh nostalgia, cerita, dan penghormatan.
Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB tersebut dipandu oleh Ade Andrini dan dibuka oleh Pesona Tiga Suara, grup vokal yang beranggotakan anak-anak Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra. Dengan energi segar sebagai generasi penerus, mereka membawakan sejumlah lagu populer 2D seperti Jatuh Hatiku, Esok Kan Masih Ada, Sepanjang Jalan Tol, dan Bohong.

Suasana hangat berlanjut saat Shandy Sondoro naik ke atas panggung. Penyanyi bersuara khas itu memberikan interpretasi baru pada lagu Semua Jadi Satu, Jakarta dan Aku Jadi Bingung dengan sentuhan blues yang kental. Setelahnya, Andien menghadirkan nuansa berbeda melalui penampilannya membawakan Aku Ini Punya Siapa, O Ya dan Kau Seputih Melati. Karakter vokalnya yang lembut dan bernuansa jaz membuat lagu-lagu tersebut terdengar segar tanpa kehilangan ruh aslinya.



Seluruh penampil malam itu didukung oleh Audiensi Band yang tampil solid mengiringi setiap musisi dengan karakter musikal yang beragam. Pengalaman para personel band pengiring tersebut membuat jalannya konser terasa mengalir dan nyaman dinikmati oleh ratusan penonton yang memenuhi venue.
Menjelang puncak acara, grup Wijaya 80 yang digawangi Ardhito Pramono, Erikson Jayanto, dan Hezky Joe menghadirkan warna berbeda melalui lagu-lagu Yang Terbaik untuk Kita, Melati di Atas Bukit, Melayang, dan Keraguan. Perpaduan karakter dari setiap penampil menjadikan repertoar 2D terasa seperti perjalanan musikal yang terus bergerak dengan berbagai emosi dan perspektif.
Momen paling emosional hadir ketika Deddy Dhukun tampil sebagai penutup konser. Sebagai satu-satunya anggota 2D yang masih aktif berkarya, kehadirannya di atas panggung menjadi pengingat kuat akan perjalanan panjang yang pernah ia lalui bersama Dian Pramana Poetra.
Dengan elegan sekaligus penuh haru, Deddy membawakan sejumlah lagu ikonik seperti Puji Syukur, Biru, Masih Ada, Sebelum Aku Pergi, Kusadari, hingga Jalan Masih Panjang. Melalui lagu-lagu tersebut, ia mengajak penonton menelusuri kisah tentang waktu, kehilangan, cinta, harapan, dan keteguhan untuk terus melangkah.
Penampilan Deddy bersama para musisi tamu menjadi penutup yang mengesankan sekaligus menegaskan bahwa warisan musik 2D masih memiliki tempat istimewa di hati penikmat musik Indonesia.
Lebih dari sekadar konser nostalgia, Tribute To 2D dirancang sebagai sebuah perjalanan emosional yang menghubungkan karya-karya klasik dengan generasi pendengar masa kini. Setiap lagu yang dibawakan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga medium untuk mengenang perjalanan dan kontribusi besar 2D dalam sejarah musik Indonesia.
Melalui konser ini, Deheng House juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung ekosistem musik nasional. Direktur Utama Deheng House, Amaliah Ananda Abadi, menyampaikan bahwa musik Indonesia memiliki kekuatan besar sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.
Menurut Amaliah, Deheng House ingin menjadi ruang terbuka bagi musisi, kreator, dan pelaku industri kreatif untuk terus berkarya, berkolaborasi, serta memperkenalkan karya mereka kepada audiens yang lebih luas. Ia menambahkan bahwa penghormatan terhadap para legenda musik Indonesia juga harus berjalan beriringan dengan upaya membuka jalan bagi generasi penerus.
Komitmen tersebut akan diwujudkan melalui berbagai program musik berkualitas yang diharapkan dapat menjadi bagian dari pertumbuhan industri kreatif Indonesia di masa depan.
Dengan deretan penampil lintas generasi, aransemen yang segar, serta momen emosional yang kuat, Konser Tribute To 2D sukses menjadi perayaan atas warisan musik Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra sekaligus pengingat bahwa karya-karya mereka tetap relevan dan dicintai hingga hari ini.
