Hari kedua Prambanan Jazz Festival #12 menjadi puncak perayaan bertajuk “Celebrate The Joy”. Seluruh tiket untuk Sabtu (4/7/2026) terjual habis jauh sebelum festival digelar. Sejak siang, puluhan ribu penonton telah memadati kawasan Candi Prambanan untuk menikmati deretan penampilan musisi nasional dan internasional yang menghadirkan pengalaman lintas genre, lintas generasi, sekaligus lintas budaya.
Atmosfer festival terasa hidup di setiap sudut kawasan. Pengunjung tidak hanya datang untuk menyaksikan konser, tetapi juga menikmati sebuah ruang yang menyatukan musik, seni, dan kebersamaan dengan latar megah Candi Prambanan. Selama satu hari penuh, festival ini kembali menunjukkan bahwa musik mampu menjadi titik temu bagi ribuan orang dengan cerita dan latar belakang yang berbeda.
Founder Prambanan Jazz Festival, Anas Alimi, menegaskan bahwa sejak awal festival ini dirancang sebagai tempat yang selalu terbuka bagi siapa saja.
“Prambanan Jazz Festival adalah rumah yang selalu terbuka untuk siapa saja. Menjadi ruang untuk pulang, sebuah tempat yang menghadirkan rasa sukacita dan tempat orang-orang terus kembali.”
Gagasan tentang “rumah” dan “kepulangan” itu terasa begitu nyata sepanjang hari kedua, terutama melalui penampilan dua musisi Indonesia yang telah menorehkan prestasi di panggung dunia, NIKI dan Joey Alexander.
NIKI Rayakan Kepulangan Lewat Konser Perdana di Yogyakarta
Tak ada penampilan yang lebih dinantikan malam itu selain NIKI.Penyanyi bernama lengkap Niki Zefanya tersebut akhirnya menjalani konser perdananya di Yogyakarta sekaligus membuka rangkaian Summertime Tour 2026 di hadapan sekitar 25.000 hingga 30.000 penonton yang memadati area festival.
Lebih dari sekadar konser, penampilan ini menjadi simbol kepulangan seorang musisi Indonesia yang telah membangun karier di panggung internasional, kembali bernyanyi di hadapan publik negeri sendiri.
Selama kurang lebih 90 menit, NIKI membawakan hampir 20 lagu yang menjadi bagian penting dari perjalanan kariernya. Mulai dari “Buzz”, “Lowkey”, “Every Summertime”, “High School in Jakarta”, “La La Lost You”, “Autumn”, hingga “Backburner”, seluruh repertoar disambut paduan suara puluhan ribu penonton yang hafal setiap lirik.
Salah satu momen paling menghibur terjadi ketika NIKI memperkenalkan lagu “Backburner” menggunakan bahasa Jawa.
“Ojo nganti dadi backburner, oke?”
Candaan singkat itu langsung memancing gelak tawa dan sorakan penonton, sekaligus menjadi salah satu momen yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Suasana kemudian berubah menjadi emosional ketika NIKI membawakan “Ocean & Engines”. Di tengah lagu, layar LED menyorot sepasang penonton yang melangsungkan lamaran di area festival. Melihat momen tersebut dari atas panggung, NIKI spontan menghentikan interaksinya sejenak.
“Oh my God! Congratulations!”
Sorak-sorai dan tepuk tangan pun menggema, menjadikan momen itu sebagai salah satu kenangan paling hangat sepanjang malam kedua Prambanan Jazz Festival.
Joey Alexander Hadirkan Makna Kepulangan Lewat Bahasa Jazz
Makna kepulangan juga diwujudkan oleh pianis jazz kebanggaan Indonesia, Joey Alexander. Bersama Joey Alexander Quartet yang diperkuat saksofonis Jaleel Shaw, serta penampilan spesial Dewa Budjana dan Natasha Elvira, Joey menghadirkan pertunjukan yang sarat eksplorasi musikal sekaligus menunjukkan kematangannya sebagai salah satu pianis jazz terbaik yang dimiliki Indonesia.
Setiap improvisasi yang dimainkan menjadi cerminan perjalanan seorang musisi yang telah menembus panggung dunia tanpa pernah melepaskan akar budaya yang membentuk identitasnya.
Di panggung Prambanan Jazz, Joey membuktikan bahwa sejauh apa pun perjalanan seorang seniman, selalu ada tempat untuk kembali merayakan karya bersama publik yang pertama kali mengenalnya.
Kahitna Sulap Rukun Stage Menjadi Karaoke Massal
Jika NIKI menghadirkan nuansa emosional, maka Kahitna membawa ribuan penonton larut dalam romantisme.
Grup musik yang digawangi Yovie Widianto sukses mengubah kawasan Rukun Stage menjadi lautan suara ketika lagu-lagu seperti “Cantik”, “Cerita Cinta”**, “Andai Dia Tahu”, hingga “Tak Sebebas Merpati” dinyanyikan bersama oleh penonton lintas generasi.
Nyaris tak ada yang hanya menjadi penonton. Semua ikut bernyanyi, menciptakan suasana yang terasa seperti karaoke raksasa di bawah langit Candi Prambanan.
Momen semakin hangat ketika Hedi Yunus mengundang seorang penonton perempuan naik ke atas panggung untuk bernyanyi bersama. Candaan ringan Hedi mengenai karakter vokal sang penggemar memancing gelak tawa dan memperlihatkan kedekatan Kahitna dengan para pendengarnya.
Societeit de Harmonie Hidupkan Identitas Festival
Hari kedua juga dimeriahkan oleh penampilan Societeit de Harmonie, grup musik yang belakangan mencuri perhatian melalui media sosial.
Mereka membawakan “Kembali ke Prambanan Jazz”, lagu tema resmi Prambanan Jazz Festival 2026, dengan aransemen yang memadukan nuansa tradisional Yogyakarta dan sentuhan musik modern.
Penampilan tersebut semakin mempertegas identitas Prambanan Jazz sebagai festival yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga merayakan kekayaan budaya Indonesia melalui musik.
Wayang Bocor Tunjukkan Festival Ini Lebih dari Sekadar Konser
Perayaan di Prambanan Jazz tidak berhenti di atas panggung musik. Melalui pertunjukan Wayang Bocor, karya seniman Eko Nugroho bersama koreografer Eko Supriyanto (Eko Pece), pengunjung diajak menikmati kolaborasi teater, tari, seni rupa, dan kritik sosial dalam satu pertunjukan yang khas.
Kehadiran karya tersebut kembali menegaskan bahwa Prambanan Jazz Festival terus berkembang sebagai ruang kreatif yang mempertemukan berbagai disiplin seni dalam lanskap megah Candi Prambanan.
Sukacita yang Terasa Nyata Hari kedua Prambanan Jazz Festival 2026 membuktikan bahwa “Celebrate The Joy” bukan sekadar tema tahunan, melainkan pengalaman yang benar-benar dirasakan oleh setiap orang yang hadir.
Makna itu hadir melalui kepulangan NIKI dan Joey Alexander, ribuan suara yang bernyanyi bersama Kahitna, kolaborasi seni yang mempertemukan tradisi dan modernitas, hingga momen-momen spontan yang tak mungkin terulang dengan cara yang sama.
Di bawah kemegahan Candi Prambanan, festival ini sekali lagi menunjukkan bahwa musik memiliki kekuatan untuk mempertemukan manusia, membangkitkan kenangan, dan menciptakan kisah baru.
Tak mengherankan jika seluruh tiket hari kedua terjual habis jauh sebelum acara berlangsung. Sebab setiap penyelenggaraannya, Prambanan Jazz Festival tidak sekadar menghadirkan deretan musisi papan atas, tetapi juga menawarkan pengalaman yang membuat puluhan ribu orang selalu memiliki alasan untuk kembali.
