Kawasan Kemang, Jakarta Selatan, akan menjadi pusat perayaan musik fusion jazz pada Juni mendatang. Deheng House resmi mengumumkan penyelenggaraan Jakarta Fusion Jazz Festival (JFJF) Volume 1, yang akan berlangsung pada 19–20 Juni 2026 sebagai bagian dari rangkaian program menuju Jakarta Annual Fusion Festival (JAKFUSE) dalam menyambut 500 tahun Kota Jakarta.
Festival yang diproduksi oleh Dehills Production, unit produksi internal Deheng House, ini juga digelar untuk memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-499 Jakarta pada 22 Juni 2026 serta World Music Day yang jatuh pada 21 Juni 2026.
Mengusung semangat menghidupkan kembali kejayaan fusion jazz Indonesia, JFJF Volume 1 menghadirkan sejumlah nama penting yang pernah mewarnai perkembangan genre tersebut sejak era 1980-an hingga sekarang.
Hari pertama festival pada Jumat, 19 Juni 2026, akan dibuka oleh penampilan Emerald-BEX, grup yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan musik fusion Indonesia. Emerald dikenal sebagai juara Light Music Contest (LMC) 1986 dan Band Explosion (BEX) 1988.
Formasi yang tampil kali ini diperkuat oleh Iwang Noorsaid (keyboard), Morgan Sigarlaki (gitar), Roediyanto (bass), Yandi (drum), serta Dudy Oris sebagai vokalis.
Salah satu program spesial yang disiapkan adalah “Tribute to Indonesian Fusion Bands”, sebuah pertunjukan yang mengangkat kembali karya-karya grup fusion legendaris Indonesia seperti Bhaskara, Spirit Band, dan Funk Section.
Audiensi Band akan menjadi penggerak utama dalam sesi penghormatan tersebut dengan menghadirkan sejumlah musisi yang pernah menjadi bagian dari grup-grup legendaris tersebut.
Dari Bhaskara akan hadir Vonny Sumlang dan AS Mates. Sementara Spirit Band diwakili oleh Eramono, Ilyas Muhadji, dan Kemala Ayu. Adapun sejumlah personel Funk Section yang akan tampil antara lain Mus Mujiono, Yance Manusama, dan Eka Bhakti.
Malam pembuka JFJF akan mencapai puncaknya melalui penampilan kolaboratif yang mempertemukan sejumlah tokoh penting musik Indonesia, yakni Krakatau, Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Dwiki Dharmawan, dan Trie Utami. Penampilan tersebut juga diperkuat oleh Barry Likumahuwa pada bass serta Andre Dinuth pada gitar.
Tidak hanya berlangsung di ruang konser utama DeConcert Room, festival ini juga menghadirkan rangkaian acara di area KoFi&Ti Deheng House yang berada di lantai dua. Mulai pukul 16.00 WIB, pengunjung dapat mengikuti berbagai kegiatan seperti talk show, jam session, dan pertunjukan musisi muda.
Suasana akan berlanjut hingga malam hari melalui penampilan Ricky Poetiray & Friends serta Cendy Luntungan & Friends.
Memasuki hari kedua, Sabtu 20 Juni 2026, panggung utama akan dibuka oleh Audiensi Band yang membawakan karya-karya grup fusion legendaris asal Jepang, Casiopea. Grup tersebut dikenal sebagai salah satu referensi utama yang memengaruhi perkembangan jazz fusion di Indonesia pada era 1980-an dan 1990-an.
Selain itu, T-42 juga akan tampil membawakan lagu-lagu dari grup funk jazz asal Inggris, Level 42.
Puncak hari kedua akan menjadi milik Karimata, salah satu grup fusion jazz paling berpengaruh dalam sejarah musik Indonesia. Formasi yang tampil akan diperkuat oleh Candra Darusman, Aminoto Kosin, Budhy Haryono, Donny Koes, Indro Hardjodikoro, serta Kharis.
Seperti hari pertama, berbagai aktivitas komunitas, diskusi musik, jam session, dan pertunjukan musisi muda juga akan berlangsung di KoFi&Ti hingga tengah malam.
Penyelenggara menargetkan sekitar 1.000 pengunjung hadir selama dua hari penyelenggaraan festival. Lebih dari sekadar konser, Jakarta Fusion Jazz Festival diharapkan menjadi momentum kebangkitan kembali musik fusion jazz di Indonesia sekaligus memperkenalkan Deheng House sebagai destinasi baru bagi penikmat musik dan ruang kreatif bagi para musisi.
Melalui festival ini, Deheng House ingin menghadirkan ruang yang tidak hanya menjadi tempat pertunjukan, tetapi juga menjadi rumah bagi komunitas musik untuk berkolaborasi, bereksperimen, dan menjaga keberlangsungan warisan fusion jazz Indonesia di tengah perkembangan industri musik modern.
