Hari kedua Java Jazz Festival 2026 menghadirkan salah satu momen paling berkesan dalam sejarah festival tersebut. Digelar di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, Sabtu (30/5/2026), festival ini mempertemukan dua kekuatan berbeda dari panggung musik internasional: gelombang indie Korea Selatan yang diwakili Wave to Earth dan pesona R&B modern dari Ella Mai.
Ribuan pengunjung memadati kawasan festival sejak sore hari. Cuaca yang bersahabat, fasilitas venue yang luas, serta deretan penampil lintas genre membuat suasana Java Jazz tahun ini terasa berbeda. Namun, perhatian terbesar malam itu tertuju pada dua nama yang menjadi sorotan utama di panggung Special Show.

Wave to Earth Buktikan Popularitas Globalnya di Indonesia
Sejak beberapa jam sebelum tampil, antrean panjang sudah terlihat di sekitar Teh Botol Sosro Hall. Banyak penggemar datang lebih awal demi mendapatkan posisi terbaik untuk menyaksikan penampilan Wave to Earth secara langsung.
Fenomena tersebut menunjukkan besarnya pengaruh trio asal Seoul yang digawangi Daniel Kim, Dong Q, dan John Cha. Dalam beberapa tahun terakhir, grup ini berkembang menjadi salah satu nama paling menonjol dari skena indie Asia berkat perpaduan khas antara indie pop, lo-fi, jazz, dan alternative rock.
Ketika lampu panggung menyala, sorakan penonton langsung memenuhi venue. Wave to Earth menghadirkan set yang nyaris tanpa jeda, membangun atmosfer yang mengalir dari satu lagu ke lagu berikutnya.
Lagu-lagu seperti Bad, Love, hingga Heaven and Hell menjadi soundtrack bagi ribuan penggemar yang bernyanyi bersama sepanjang pertunjukan.
Alih-alih mengandalkan interaksi verbal yang panjang, Wave to Earth memilih membiarkan musik berbicara. Pendekatan tersebut justru memperkuat karakter mereka yang atmosferik dan emosional. Menjelang akhir konser, sapaan sederhana dalam bahasa Indonesia dari Daniel Kim menjadi salah satu momen yang paling disambut hangat oleh penonton.
Keberhasilan mereka menarik ribuan penggemar di Java Jazz semakin menegaskan posisi Wave to Earth sebagai salah satu ekspor musik independen terbesar Korea Selatan saat ini, menyusul kesuksesan tur dunia mereka yang mencakup lebih dari 50 pertunjukan dan sejumlah konser sold out di Seoul.

Ella Mai Rayakan Debut Indonesia yang Emosional
Jika Wave to Earth menghadirkan pengalaman yang reflektif dan atmosferik, maka Ella Mai menawarkan sisi lain dari malam Java Jazz yang penuh emosi dan koneksi personal.
Penyanyi R&B asal London itu menjalani debutnya di Indonesia melalui Java Jazz Festival 2026 dan menjadikan momen tersebut sebagai salah satu penampilan paling berkesan dalam karier internasionalnya.
Sejak kemunculannya di atas panggung, Ella Mai langsung disambut meriah oleh para penggemar yang telah memenuhi area pertunjukan. Kehadirannya menjadi salah satu penampilan yang paling dinanti pada hari kedua festival.
Dengan penuh antusiasme, ia menyapa penonton dan mengajak mereka merayakan malam bersama melalui musik R&B yang telah membawanya meraih pengakuan global.
Di sela pertunjukan, Ella Mai beberapa kali mengungkapkan rasa harunya karena akhirnya dapat tampil di Indonesia untuk pertama kalinya.
Menurutnya, perjalanan musik yang membawanya dari London hingga ke Jakarta merupakan sesuatu yang sulit dibayangkan ketika ia memulai karier sebagai penyanyi muda.
Peraih Grammy Award untuk kategori Lagu R&B Terbaik tersebut juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para penggemar yang telah mendukung karya-karyanya hingga dikenal di berbagai belahan dunia.
Malam itu, Ella Mai membawakan sejumlah lagu yang membentuk perjalanan kariernya, mulai dari Whatchamacallit, Shot Clock, How, hingga lagu-lagu bernuansa emosional seperti First Day, Might Just, dan 100.
Puncak pertunjukan terjadi ketika dua lagu terbesar dalam kariernya, Boo’d Up dan Trip, dimainkan. Ribuan penonton serempak bernyanyi bersama, menciptakan salah satu momen sing along terbesar sepanjang festival.
Di penghujung konser, Ella Mai kembali menyampaikan rasa syukur atas sambutan yang diterimanya dari publik Indonesia. Ia mengaku tidak pernah membayangkan dapat berdiri di Jakarta dan menyaksikan ribuan orang menyanyikan lagu-lagunya bersama.
Java Jazz Semakin Menegaskan Status Internasional
Selain dua penampil utama tersebut, hari kedua Java Jazz Festival 2026 juga menghadirkan jajaran musisi internasional dan nasional yang memperlihatkan keberagaman identitas festival.

Foto: Dok. Java Jazz Festival 2026
Nama-nama seperti Dave Koz bersama Dave Koz and Friends Summer Horns, Frank McComb, Citrus Sun, Andien, Potret, The Overtunes, Ziva Magnolya, hingga Diskoria turut memeriahkan festival.
Perpindahan venue ke NICE PIK 2 juga menghadirkan pengalaman baru bagi pengunjung. Area yang lebih luas memungkinkan festival berkembang menjadi destinasi hiburan yang tidak hanya berfokus pada musik, tetapi juga pengalaman budaya, kuliner, dan interaksi komunitas.
Dengan hadirnya artis-artis global seperti Wave to Earth dan Ella Mai yang sama-sama menjalani momen penting dalam hubungan mereka dengan penggemar Indonesia, hari kedua Java Jazz Festival 2026 menjadi bukti bahwa festival ini terus berkembang sebagai salah satu panggung musik paling relevan dan berpengaruh di kawasan Asia-Pasifik.
