Atmosfer penuh euforia, koor massal, dan semangat “happy metal” mengguncang Toba Dream, Jakarta, pada Rabu malam (13/5) saat band power metal asal Jerman, Freedom Call, akhirnya menjalani konser perdana mereka di Indonesia dalam gelaran Jakarta Metalhead Festival 2026 yang dipromotori oleh Waloh Mateng Production.
Bagi para metalhead Tanah Air, kedatangan Freedom Call menjadi salah satu momen yang telah lama dinantikan. Sejak sore hari, area venue mulai dipadati penonton yang didominasi lautan kaus hitam dari berbagai generasi band metal, mulai dari heavy metal klasik hingga modern extreme metal. Antusiasme penonton semakin memuncak ketika lampu panggung diredupkan dan intro konser mulai menggelegar dari sistem tata suara venue.
Tampil dengan formasi terkini, Freedom Call diperkuat oleh Chris Bay pada posisi vokal dan gitar, Lars Rettkowitz pada gitar, Francesco Ferraro pada bass, serta Roland Jahoda yang mengisi posisi drum menggantikan Ramy Ali dalam rangkaian tur Asia mereka tahun ini.
Tanpa membuang waktu, Freedom Call langsung menghantam penonton melalui “Hammer of the Gods”, lagu pembuka yang seketika memancing headbang massal dari ribuan penggemar di area festival. Chris Bay beberapa kali menyapa penonton Indonesia dan mengaku terkesan dengan energi serta antusiasme metalhead Jakarta yang terus bernyanyi bersama sejak awal pertunjukan.
Intensitas konser semakin meningkat ketika Freedom Call membawakan deretan lagu seperti “Tears of Babylon”, “Supernova”, hingga materi terbaru mereka, “Silver Romance”. Perpaduan riff cepat, melodi uplifting, dan chorus anthemik khas power metal membuat seluruh area konser berubah menjadi lautan sing-along yang nyaris tak berhenti sepanjang malam.
Momen paling eksplosif terjadi saat “Union of the Strong” dan “The Quest” dimainkan. Circle pit langsung terbentuk di tengah kerumunan penonton, sementara lainnya terus melompat mengikuti dentuman double pedal dan permainan gitar cepat Lars Rettkowitz.
Nuansa “happy metal” yang selama ini melekat kuat pada identitas Freedom Call benar-benar mencapai puncaknya ketika “Heavy Metal Happycore” dibawakan. Lagu tersebut menjadi salah satu titik paling meriah sepanjang konser dengan penonton mengangkat tangan sambil menyanyikan bagian refrain secara serempak.
Menjelang akhir penampilan, Freedom Call menghadirkan rangkaian anthem klasik seperti “Freedom Call”, “Power & Glory”, dan “Warriors” yang membuat suasana berubah semakin emosional. Konser kemudian ditutup melalui encore megah “Metal Is for Everyone” dan “Land of Light”, dua lagu yang sukses meninggalkan kesan mendalam bagi para penggemar yang telah menanti bertahun-tahun untuk menyaksikan band tersebut tampil langsung di Indonesia.
Selain Freedom Call, Jakarta Metalhead Festival 2026 juga menghadirkan sederet penampil lokal seperti Skullhead, Luth, Exorleed, Fourteen Straight, Toto Tewel, Great of Souls, Grausig, Inner Beauty, Indonesia Pumpkins United, hingga Speed Metal Project yang semakin mempertegas atmosfer pesta metal internasional di Jakarta.
Namun, festival tersebut harus ditutup tanpa penampilan Marjinal yang sebelumnya dijadwalkan tampil sebagai penutup acara. Band tersebut batal tampil akibat pembatasan jam operasional venue yang telah melewati izin penyelenggaraan.
Konser perdana Freedom Call di Jakarta bukan sekadar pertunjukan nostalgia bagi penggemar power metal. Penampilan tersebut juga menjadi penegas bahwa skena power metal di Indonesia masih memiliki basis penggemar yang solid, loyal, dan penuh energi. Bagi para metalhead yang hadir malam itu, Jakarta Metalhead Festival 2026 menjelma menjadi selebrasi lintas generasi, sebuah malam ketika musik metal kembali membuktikan dirinya sebagai ruang kebersamaan tanpa batas.
