Berbicara kesuksesan, unit glam rock asal New Jersey ini tidak perlu diragukan lagi kiprahnya, mencatat penjualan album sebanyak 120 juta keping diseluruh dunia adalah bukti bahwa mereka adalah legenda hidup. Namun berbicara pengakuan sebagai band yang memiliki pengaruh yang sangat besar di dalam industri musik, terutama untuk jenis rock and roll butuh waktu lebih dari 3 dekade untuk mereka mencatatkan namanya di Rock and Roll Hall of Fame.

Mundur ke circa 1982, ketika Jon Bon Jovi sang  frontman merekam lagu “Runaway” yang awalnya banyak mengalami penolakan, perlahan tapi pasti naik ke jajaran elit tangga lagu di New Jersey. Saat itu Jon tidak memiliki band tetap, untuk mengejar mimpinya ia mengajak David Bryan seorang pemain kibor. Lalu David mengenalkan Alec John Such sebagai bassis dan Tico Torres sebagai dramer kepada Jon. Jon sendiri membawa serta Dave Sabo kawan karibnya sebagai gitaris. Disinilah awal mimpi menjadi band besar dimulai.
Namun sebelum mimpi besar itu terwujud ditengah perjalanan Dave Sabo memutuskan hengkang untuk membentuk Skid Row, posisinya digantikan oleh Richie Sambora seorang gitaris bergenre swing yang sempat mengikuti audisi pencarian gitaris KISS namun tidak lolos.

Dua tahun setelah band ini terbentuk, pada tahun 1984 mereka menelurkan album self titled pertama mereka. Meski didalamnya terdapat lagu “Runaway” yang sudah familiar tidak serta merta membuat album ini laris dipasaran.
Tanpa putus asa tepat setahun setelahnya mereka merilis album “7800° Fahrenheit”  lagi-lagi album ini tidak mendapatkan hasil yang positif malahan mendapatkan kritikan pedas dari para kritikus musik pada waktu itu.

Tak mau menyerah pada keaadan, di album ketiga yang menjadi pertaruhan karir mereka diblantika industri musik dunia Bon Jovi merilis “Slippery When Wet” pada tahun 1986. Tidak dinyana, album yang berisikan lagu “You Give Love a Bad Name”, “Wanted Dead or Alive”“Raise Your Hands”, “Never Say Goodbye” meledak dipasaran. Didalamnya juga ada lagu “Living on a Prayer” yang berkisah tentang pejuangan hidup kelas pekerja Tommy & Gina dan kelak lagu ini menjadi anthem para pekerja keras yang percaya akan kekuatan mimpi, usaha dan doa bahwa hidup akan membaik suatu saat nanti.

Perjalanan panjang menuju Rock and Roll Hall of Fame
Sukses dalam penjualan album dan tur diseluruh dunia tidak serta merta membuat Bon Jovi secara instan masuk dalam jajaran elit band yang berpengaruh di jagad musik dunia.
Proses tempaan yang mereka jalani mulai konsekuensi kelelahan tur panjang mereka sampai pada keluarnya Alec John Such ditahun 1994 (beberapa sumber menyebut Alec dipecat karena skill permainan bass nya biasa-biasa saja) disusul Richie Sambora pada tahun 2013 tepat setelah 30 tahun bergabung karena kecanduan alkohol dan keluar masuk rehabilitasi tidak membuat Jon cs berhenti berkreasi ataupun membubarkan band. Bahkan Jann Wenner, pendiri majalah Rolling Stone yang juga menjadi anggota direksi Rock and Roll Hall of Fame ikut menempa perjuangan Jon dkk dengan menganggap bahwa Bon Jovi tidak penting-penting amat bagi dunia musik.
Hebatnya disaat kondisi band tidak kondusif dan penilaian sebagian orang bahwa mereka “telah habis”, Bon Jovi malah melahirkan berbagai hits baru seperti “Bed of Roses” dan “Someday I’ll Be Saturday Night” di album kompilasi “Cross Road” dan “It’s My Life” di album “Crush” yang merupakan rock n’ roll anthem kaum millenial. Bahkan sampai tahun 2016 pun mereka masih aktif mengeluarkan album bertajuk “This House Is Not for Sale” seolah Bon Jovi ingin berkata pada dunia, bahwa perjuangan mereka belum habis selama hayat masih dikandung badan.

Puncaknya pada tangal 14 April 2018, bertempat di Public Auditorium Cleveland (setelah pernah dinominasikan pada tahun 2011 namun tak lolos). Dengan dukungan lebih dari 1 juta voters dan penjurian ketat, buah usaha mereka selama 35 tahun terbayar lunas. Bon Jovi dilantik menjadi Ketua Kelas dalam Rock and ol Hall of Fame 2018 dimana didalamnya juga dilantik The CarsDire Straits,The Moody BluesNina Simone, dan Sister Rosetta Tharpe (kategori Early Influence). Akhirnya, Jon, David dan Tico satu panggung lagi bersama Richie dan Alec!
Sebuah perjalanan panjang nan berliku seorang tukang pel studio bersama kawan-kawannya mewujudkan mimpi yang berbuah manis. Bahkan Gubernur New JerseyPhil Murphy menetapkan tanggal 14 April sebagai “Bon Jovi Day”.

Bon Jovi adalah wujud kerja keras, mereka tidak mengenal apa itu keberuntungan seperti termaktub dalam lirik lagu mereka “Always”.
“Well there ain’t no luck in these loaded dices”.
Kemenangan Bon Jovi adalah kemenangan kita bersama, kemenangan para pekerja keras.

Because We Can!

One thought on “Rock and Roll Hall of Fame 2018 : ​Kemenangan Bon Jovi, Kemenangan Para Pekerja Keras

  1. Hi, this is a comment.
    To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
    Commenter avatars come from Gravatar.

Comments are closed.

You may also like