Tidak semua hubungan berakhir karena hilangnya rasa. Terkadang, dua orang masih saling mencintai, tetapi memiliki cara yang berbeda dalam memahami, menunjukkan, dan menerima kasih sayang.
Persoalan tersebut menjadi inti cerita “Tak Peka”, kolaborasi terbaru Whisnu Santika bersama eńau yang menjadi bagian dari perjalanan album Map of Feelings.
Melalui lagu ini, Whisnu Santika kembali mengeksplorasi sisi musikalnya dengan mempertemukan karakter musik elektronik yang menjadi cirinya dengan karakter vokal eńau yang personal, intim, dan emosional.
“Tak Peka” membawa pendengar ke dalam cerita tentang dua orang yang berada dalam sebuah hubungan, tetapi tidak selalu memiliki cara yang sama dalam membaca perasaan satu sama lain.
Lagu ini mengambil sudut pandang seseorang yang terus berusaha memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh pasangannya. Namun, seiring hubungan berjalan, muncul kesadaran bahwa memahami seseorang tidak selalu sesederhana memberikan perhatian atau melakukan hal-hal yang dianggap benar.
Di sinilah konflik “Tak Peka” terasa dekat dengan pengalaman banyak orang. Sebuah hubungan dapat mengalami keretakan bukan karena tidak adanya kasih sayang, melainkan karena bahasa cinta, cara berkomunikasi, dan ekspektasi kedua pihak tidak pernah benar-benar bertemu.
Ketika Cara Mencintai Tak Pernah Sama
Dalam “Tak Peka”, sosok utama digambarkan sebagai seseorang yang merasa cara dirinya mencintai selalu berbeda dengan apa yang diharapkan pasangannya.
Ia mungkin tidak memberikan perhatian dengan cara yang sama seperti sosok yang pernah hadir sebelumnya. Ia juga mungkin tidak selalu memberikan respons yang diinginkan. Namun, perbedaan tersebut tidak serta-merta berarti bahwa perasaannya tidak tulus.
Konflik kemudian berkembang menjadi pertanyaan yang lebih besar: apakah seseorang harus mengubah dirinya agar dapat dicintai dengan cara yang diharapkan pasangannya?
Atau, sebaliknya, sebuah hubungan seharusnya memberikan ruang bagi dua orang untuk saling memahami cara masing-masing dalam memberikan kasih sayang?
Karakter vokal eńau menjadi medium yang tepat untuk membawa kegelisahan tersebut. Dengan pendekatan vokal yang intim dan terasa seperti percakapan personal, ia menghadirkan perspektif seseorang yang terus berusaha membaca isi kepala dan perasaan orang lain.
Ada pengakuan, kebingungan, sekaligus rasa bersalah yang berjalan beriringan. Kalimat “Maaf aku tak peka” menjadi representasi dari seseorang yang mungkin telah berusaha sebaik mungkin, tetapi tetap merasa gagal karena tidak mampu memenuhi ekspektasi pasangannya.
Tidak Harus Menjadi Orang Lain
Lebih jauh, “Tak Peka” juga berbicara mengenai tekanan untuk menjadi seseorang yang bukan diri sendiri dalam sebuah hubungan.
Ketika seseorang terus dibandingkan dengan sosok yang pernah hadir sebelumnya, pertanyaan tentang penerimaan diri mulai muncul. Apakah mencintai berarti harus berubah menjadi seperti yang diinginkan pasangan? Atau, justru cinta seharusnya memberi ruang bagi seseorang untuk diterima bersama segala kelebihan dan kekurangannya?
Pertanyaan tersebut membuat “Tak Peka” tidak berhenti sebagai lagu tentang konflik hubungan. Lagu ini juga menjadi refleksi mengenai bagaimana manusia memahami cinta dan bagaimana ekspektasi dapat membentuk cara seseorang menilai pasangannya.
Dalam konteks tersebut, Map of Feelings menjadi ruang yang semakin luas bagi Whisnu Santika untuk menerjemahkan emosi, pengalaman, dan berbagai bentuk perasaan ke dalam musik.
Kolaborasinya bersama eńau memperlihatkan sisi lain dari perjalanan tersebut. Musik elektronik Whisnu Santika menjadi lanskap bagi cerita yang dibawakan eńau, sementara karakter vokalnya memberikan dimensi emosional yang membuat konflik dalam lagu terasa dekat dan personal.
Pada akhirnya, “Tak Peka” mengajak pendengar melihat kembali hubungan yang pernah atau sedang mereka jalani.
Tentang seberapa jauh kita benar-benar memahami orang yang kita cintai. Tentang ekspektasi yang kadang tidak pernah dibicarakan. Dan tentang kemungkinan bahwa seseorang yang kita sebut “tak peka” sebenarnya bukan tidak memiliki rasa—mungkin saja ia hanya belum memahami bagaimana cara orang yang dicintainya ingin dicintai.
Whisnu Santika x eńau melalui “Tak Peka” menghadirkan sebuah pengingat sederhana: dalam sebuah hubungan, mencintai seseorang belum tentu berarti kita otomatis memahami cara terbaik untuk mencintainya.
